Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih menghadapi tekanan pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Nilai indeks berpotensi melanjutkan tren penurunan dari sesi sebelumnya.

Pada penutupan perdagangan terakhir, IHSG terkoreksi tajam sebesar 4,52% ke posisi 5.342. Level tersebut menjadi titik terendah sejak November 2020.

>>> Apple Perkenalkan Siri AI di WWDC 2026 untuk Saingi ChatGPT dan Gemini

Aksi jual bersih investor asing di pasar reguler mencapai Rp 588 miliar. Faktor eksternal seperti kejatuhan saham teknologi global turut menekan indeks Nasdaq dan KOSPI.

Dari dalam negeri, penurunan cadangan devisa selama lima bulan berturut-turut menjadi US$ 144,9 miliar memperkuat keraguan pasar terhadap stabilitas rupiah.

Nilai tukar rupiah yang berada di atas Rp 18.150 per dolar AS menjadi risiko krusial.

BRI Danareksa Sekuritas dalam ulasannya menyebutkan IHSG berpotensi melanjutkan tekanan pelemahan dengan area support di 5.200 dan resistance di 5.600.

>>> Kemensos Buka Peluang Karier Sekolah Rakyat untuk Guru dan Wali Asrama

Ketidakpastian global akibat memanasnya konflik Iran-Israel juga memicu sikap risk-off di pasar domestik.

Di pasar global, Wall Street mencatatkan pergerakan variatif.

Dow Jones Industrial Average melemah 0,16% ke 50.786, S&P 500 naik 0,30% ke 7.405,7, dan Nasdaq Composite melesat 0,86% ke 25.929,6.

Sebagai alternatif transaksi, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan saham ADMR dan MSIN untuk trading pada Selasa (9/6/2026).

>>> Indomilk Edukasi Anak Pilih Camilan Sehat Berbahan Olahan Susu

Sementara itu, aksi jual asing agresif terjadi pada saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, dan TLKM.