Harga emas diproyeksikan masih memiliki peluang besar untuk melanjutkan tren kenaikan jangka panjang.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Riset Komoditas dan Makroekonomi di WisdomTree, Nitesh Shah, melalui Kitco News.

>>> Wasit Piala Dunia Asal Somalia Ditolak Masuk AS Meski Punya Visa Sah

Meskipun saat ini posisi emas berada di bawah rata-rata pergerakan nilai dalam 200 hari terakhir, analis melihat potensi kenaikan ke depan.

Pada Senin (8/6/2026), harga emas tercatat turun 0,32 persen menjadi US$ 4.315,38 per troy ounce.

Penurunan tersebut dipengaruhi oleh penantian pelaku pasar terhadap arah kebijakan Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, serta perkembangan data inflasi di Amerika Serikat.

Faktor Pendorong Kenaikan Emas

Nitesh Shah menyebutkan bahwa ada banyak potensi penurunan suku bunga riil. "Jika The Fed mempertahankan suku bunga tetap dan inflasi meningkat, suku bunga riil akan turun," katanya.

Laju inflasi yang mengalami percepatan dinilai akan memangkas tingkat suku bunga riil secara efektif. Hal ini terjadi meskipun bank sentral AS tidak mengubah kebijakan suku bunga mereka.

>>> Kisah Pilu Dyana Axera: Relakan Pernikahan Setelah Diselingkuhi Mantan

Selain itu, risiko perlambatan kondisi ekonomi global dapat menjadi pendorong tambahan.

"Jika Anda mulai melihat perlambatan ekonomi, itu adalah alasan lain bagi harga emas untuk naik," ucap Nitesh Shah.

Ketidakpastian situasi ekonomi dinilai akan meningkatkan permintaan terhadap komoditas aman. Emas dianggap memiliki rekam jejak yang solid saat menghadapi guncangan finansial global.

"Emas cenderung berkinerja baik dalam skenario resesi. Ini adalah aset defensif yang sangat kuat," sambung Nitesh Shah.

Faktor lain yang memicu kekhawatiran pasar adalah lonjakan utang pemerintah AS yang mendekati jumlah anggaran pengeluaran militer.

>>> Kenali Gejala Kanker Usus Besar dan Cara Deteksi Dininya

"Harga emas saat ini sangat tinggi karena pasar khawatir tentang keberlanjutan utang," beber Nitesh Shah.