Sebagai gambaran murahnya pasar ekuitas, dia mencontohkan valuasi saham perbankan berkapitalisasi pasar jumbo yang sudah rontok ke level ekstrem.

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) kini diperdagangkan dengan price to book value (PBV) di bawah standar deviasi -3 dalam jangka 5 tahun.

Sementara itu, emiten pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatatkan PBV di level 1,3 kali dengan PER serendah 7,6 kali.

Di tengah derasnya tekanan jual asing, pelemahan rupiah, serta lonjakan inflasi, KISI Sekuritas melihat bahwa prospek risk-reward investasi saat ini sangat asimetris dan cenderung menarik untuk jangka menengah hingga panjang.

Wafi mengatakan apabila skenario terburuk terjadi, seperti adanya downgrade indeks oleh MSCI yang diikuti prospek negatif dari lembaga pemeringkat S&P, IHSG diproyeksi berpotensi menguji level batas bawah di rentang 4.800–5.000.

Sebaliknya, jika sentimen berbalik membaik, ruang kenaikan atau upside indeks komposit diperkirakan mampu menuju 6.800–7.200 dalam 12 bulan ke depan.

Katalis Relief Rally dan Rekomendasi Sektor

KISI memperkirakan ada empat katalis utama pemicu relief rally atau titik balik struktural IHSG pada semester II/2026.

Pendorong utama mencakup kepastian bertahannya Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets pada akhir Juni, serta sinyal pelonggaran suku bunga acuan Bank Indonesia.

Katalis berikutnya adalah stabilitas nilai tukar rupiah yang diharapkan mampu menguat kembali ke bawah level Rp17.500 per dolar AS.

Selain itu, kepastian arah kebijakan fiskal pemerintah yang menjaga defisit anggaran di bawah 3%.

>>> Alhamdulillah! Asmara Gen Z Gagal Masuk 10 Besar, Inilah Acara TV dengan Rating Terbaik Hari ini 9 Juni 2026

“Satu katalis saja sudah cukup untuk memicu relief rally sebesar 8% hingga 15% pada indeks.