Apple melipatgandakan target produksi MacBook Neo setelah permintaan pasar melonjak drastis.

Laptop dengan harga USD 600 atau sekitar Rp9,7 juta ini awalnya ditargetkan 5 juta unit, kini menjadi 10 juta unit.

>>> IHSG Anjlok 4,52% ke 5.342,13, Investor Asing Jual Bersih Rp44,76 Miliar

Analis Ming-Chi Kuo mengungkapkan revisi target pengiriman internal tersebut.

Data IDC menunjukkan penjualan mencapai 1,1 juta unit dalam waktu kurang dari tiga minggu pada kuartal lalu.

Angka itu melampaui performa MacBook Air dan MacBook Pro yang lebih premium. Konsumen tampak memaklumi spesifikasi MacBook Neo yang menggunakan prosesor daur ulang dari iPhone dan RAM 8GB.

Tantangan Produksi dan Pasokan

Langkah menggandakan produksi di tengah kelangkaan komponen global menjadi tantangan besar. Ketersediaan memori DRAM dan NAND banyak terserap untuk kebutuhan pusat data AI.

Stok prosesor iPhone daur ulang yang menjadi kunci harga murah MacBook Neo berpotensi habis karena penjualan melampaui prediksi.

>>> AS Buka Peluang Bebaskan Tarif Impor 18 Produk Indonesia

Kapasitas pabrik chip TSMC untuk fabrikasi 3-nanometer juga sudah sangat padat.

Apple kemungkinan kesulitan mempertahankan harga USD 599 pada cetakan baru demi menjaga margin keuntungan.

Respons Kompetitor Windows

Keberhasilan MacBook Neo memicu respons agresif dari produsen laptop Windows. Asus, HP, dan Dell bersiap meluncurkan laptop di bawah USD 600 dengan prosesor Intel Wildcat Lake.

Dell bahkan menghidupkan kembali lini XPS 13 versi murah dengan RAM 8GB. Padahal, pakar teknologi menyarankan RAM minimal 16GB untuk Windows 11.

>>> Thailand U-19 Kalahkan Malaysia 3-2, Malaysia Gagal ke Semifinal Piala AFF

Kuo juga menyinggung tren AI lokal lewat chip Nvidia RTX Spark, namun mencatat sebagian besar pengguna masih memilih layanan AI berbasis cloud.