Koreksi Saham Perbankan Jadi Peluang Akumulasi Investor Jangka Panjang
Pelemahan harga saham sektor perbankan belakangan ini dinilai bukan akibat penurunan kinerja fundamental perusahaan. Penurunan tersebut lebih dipengaruhi oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap situasi makro ekonomi.
Situasi ini justru dipandang sebagai momentum yang tepat bagi investor jangka panjang untuk masuk ke pasar modal.
>>> Pemerintah Kota Utsunomiya Tutup 94 Sekolah Akibat Ancaman Beruang
Potensi keuntungan yang bisa didapatkan semakin besar seiring dengan penurunan harga saham saat ini.
Berdasarkan laporan riset RHB Sekuritas yang dikutip dari Investor Daily, sejumlah bank mencatatkan kinerja keuangan yang solid hingga April 2026.
Laba bersih industri perbankan tumbuh 8,7%.
Kenaikan laba bersih ditopang oleh penyaluran kredit yang ekspansif serta pendapatan berbasis komisi yang terjaga.
Kemampuan menghasilkan laba inti juga meningkat, ditunjukkan oleh kenaikan PPOP sebesar 6,6% dan penurunan biaya kredit.
Pertumbuhan penyaluran kredit tercatat 11,7% berkat tingginya permintaan dari sektor korporasi dan komersial. Empat bank besar di Indonesia tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan industri perbankan nasional.
Kualitas aset perbankan juga memperlihatkan tren perbaikan, terlihat dari penurunan biaya kredit sektor dari 1,4% menjadi 1,3% dibanding periode yang sama tahun lalu.
>>> GTR Ultra 2026: Lari Trail Lintasi Empat Puncak Gunung di Jawa Tengah
Namun, margin bunga bersih (NIM) sektor mengalami penyusutan dari 5% menjadi 4,9%.
“Tekanan terhadap margin masih berlanjut, dengan NIM sektor turun menjadi 4,9% dari 5% pada April 2026.
Persaingan penyaluran kredit yang ketat, meningkatnya porsi kredit korporasi dengan yield lebih rendah, serta kenaikan suku bunga BI baru-baru ini diperkirakan menjaga biaya dana tetap tinggi dan memberikan tekanan terhadap margin,” beber RHB, dikutip Senin (8/6/2026).
RHB Sekuritas melihat aksi jual di pasar saham belakangan ini dipicu oleh faktor eksternal seperti depresiasi nilai tukar rupiah serta risiko peringkat kredit negara.
Kondisi fundamental industri perbankan sendiri dinilai tidak mengalami masalah berarti.
Lembaga riset ini mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor perbankan di Indonesia. Beberapa saham bank milik negara menjadi pilihan utama dalam strategi investasi kali ini karena valuasinya yang menarik.
Saham perbankan syariah BRIS juga direkomendasikan beli dengan target harga Rp2.800 dari posisi terakhir Rp1.620.
>>> Pep Guardiola Peringatkan Barcelona Soal Obsesi Liga Champions
Sementara itu, saham BBTN dipasang target harga Rp1.630 per lembar dibandingkan harga penutupan terakhir Rp1.040.
Update Terbaru
Indonesia U-19 Kalahkan Vietnam 2-1, Lolos ke Semifinal Piala AFF
Senin / 08-06-2026, 18:44 WIB
Gempa Magnitudo 7,8 Guncang Filipina Selatan, 32 Orang Tewas
Senin / 08-06-2026, 18:44 WIB
Pemerintah Salurkan Bansos PIP 2026 Termin 2 Mulai Mei
Senin / 08-06-2026, 18:44 WIB
Said Iqbal Berkomitmen Perjuangkan Keseimbangan Hak Buruh dari Dalam Pemerintahan
Senin / 08-06-2026, 18:41 WIB
51 Kode Redeem FF Terbaru 8 Juni 2026: MP40 Buff Tembus Armor, Buru Skin Gratis
Senin / 08-06-2026, 18:41 WIB
Penjualan Geely EX2 Tembus 3.500 Unit, Ubah Tren Mobil Listrik di Indonesia
Senin / 08-06-2026, 18:40 WIB
Pria Kaget Tagihan Makan Telur dan Roti di Hotel Mewah Tembus Rp 400 Ribu
Senin / 08-06-2026, 18:40 WIB
4 Cara Cek Saldo BPJS Ketenagakerjaan Tanpa Aplikasi, Bisa Lewat SMS dan WhatsApp
Senin / 08-06-2026, 18:40 WIB
7 Tanda Orang Memiliki Empati Tinggi Menurut Psikolog
Senin / 08-06-2026, 18:40 WIB
Cerita Pelajar Samarinda 10 Bulan Kuliti Salmon di Alaska
Senin / 08-06-2026, 18:40 WIB
Elfa's Singers Gelar Konser Tunggal Pesta Cinta di Jakarta
Senin / 08-06-2026, 18:39 WIB
Mandiri Utama Finance Dorong Kolaborasi Percepat Transisi Motor Listrik
Senin / 08-06-2026, 18:39 WIB
Bridgestone Indonesia Raih Penghargaan Kepatuhan Regulasi IRCA 2026
Senin / 08-06-2026, 18:39 WIB
Timnas Indonesia U-19 Tekuk Vietnam untuk Lolos ke Semifinal
Senin / 08-06-2026, 18:36 WIB






