Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan signifikan pada Senin (8/6/2026).

Di pasar spot, rupiah merosot 0,84 persen secara harian ke level Rp 18.188 per dolar AS.

>>> Pengelola Kawasan Industri Optimistis Kinerja Tumbuh Hingga Akhir 2026

Pelemahan ini sejalan dengan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI).

Jisdor menunjukkan rupiah melemah 0,73 persen ke posisi Rp 18.171 per dolar AS.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah berasal dari faktor eksternal dan domestik.

Penguatan dolar AS secara global dan peningkatan ketegangan geopolitik menjadi pemicu utama.

"Rupiah juga tertekan oleh sentimen domestik yang telah menjadi krisis kepercayaan," ujar Lukman Leong.

>>> Asosiasi Industri Tekstil Rencanakan Kenaikan Harga Akibat Pelemahan Rupiah

Selain itu, cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 tercatat US$ 144,9 miliar.

Angka ini menyusut US$ 1,3 miliar dari bulan sebelumnya, menambah beban bagi pergerakan rupiah.

Proyeksi Pergerakan Rupiah

Untuk perdagangan selanjutnya, nilai tukar rupiah diprediksi masih menghadapi tantangan berat. Faktor regional dan domestik diperkirakan terus memberikan tekanan.

Investor global juga memantau perkembangan resolusi konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda positif. Tekanan tambahan berpotensi datang dari aksi jual masif saham sektor teknologi global.

>>> Prabowo Jawab Kritik Demokrasi dan Peran Militer di Indonesia

Lukman Leong memperkirakan rupiah pada perdagangan Selasa (9/6) akan bergerak fluktuatif. Rentang pergerakan diperkirakan antara Rp 18.250 hingga Rp 18.400 per dolar AS.