Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali mengalami tekanan besar dan ditutup pada posisi terlemah dalam sejarah.

Berdasarkan data dari Investasi, mata uang garuda bertengger di level Rp 18.188 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Senin, 8 Juni 2026.

>>> Sparta Rotterdam Dikabarkan Incar Ragnar Oratmangoen

Performa tersebut menunjukkan penurunan sebesar 0,84% jika dibandingkan dengan posisi pada penutupan hari Jumat, 5 Juni 2026, yang berada di angka Rp 18.036 per dolar AS.

Catatan pergerakan ini resmi menjadi rekor penutupan paling rendah bagi rupiah sepanjang masa.

Data dari Bloomberg juga memperlihatkan bahwa pelemahan rupiah bahkan sempat menyentuh angka yang lebih dalam pada perdagangan intraday.

Mata uang domestik ini tercatat pernah menembus level Rp 18.205 per dolar AS pada pukul 13.10 WIB.

Hingga pukul 15.00 WIB, situasi pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau sangat bervariasi dengan kecenderungan melemah terhadap dolar AS.

Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan koreksi paling tajam setelah ambles sebesar 1,03%.

>>> Persija Jakarta Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru Musim 2026/2027

Pelemahan ini diikuti oleh rupee India yang terkoreksi sebesar 0,74%, serta peso Filipina yang mengalami penurunan 0,31%.

Selain itu, dolar Taiwan juga ditutup menyusut sebesar 0,29%.

Mata uang Asia lainnya yang ikut melemah adalah baht Thailand dengan penurunan 0,26%, disusul dolar Hong Kong yang terkoreksi tipis 0,008% terhadap the greenback.

Mata Uang Asia yang Menguat

Di tengah tren penurunan regional, beberapa mata uang justru berhasil mencatatkan penguatan.

Won Korea Selatan memimpin sebagai mata uang dengan kenaikan tertinggi di Asia setelah melesat 1,73%.

Selanjutnya, yuan China berhasil terangkat sebesar 0,06% dan dolar Singapura menguat 0,05%.

>>> Link DANA Kaget 8 Juni 2026: Klaim Saldo Gratis Terbatas, Waspada Tautan Palsu

Yen Jepang juga berada di zona hijau dengan kenaikan tipis sebesar 0,04% pada perdagangan kali ini.