Harga emas di pasar spot mengalami penurunan 1% pada awal pekan ini, tepatnya Senin (8/6/2026), menjadi US$ 4.287,66 per ons troi.

Pelemahan ini melanjutkan tren negatif yang terjadi pada Jumat sebelumnya, ketika harga emas sempat merosot sekitar 3% ke level terendah sejak 24 Maret.

>>> Jadwal Program Televisi Selasa, 9 Juni 2026 ada Film Bioskop Songbird dan American Assassin di ANTV, GTV, Indosiar, MDTV, Metro TV, MNCTV, RCTI, SCTV, Trans 7, Trans TV dan TVONE serta Link Nonton

Penurunan harga emas dipicu oleh meningkatnya kecemasan pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat.

Laporan ketenagakerjaan AS yang kuat menjadi salah satu pemicu utama, bersamaan dengan kembali memanasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak.

Harga minyak mentah global melonjak lebih dari US$ 3 per barel akibat eskalasi konflik, memperparah kekhawatiran inflasi global.

Pada perdagangan berjangka, harga emas untuk kontrak pengiriman Agustus 2026 turun 1,2% menjadi US$ 4.311 per ons troi.

Analis pasar senior OANDA, Kelvin Wong, mengatakan bahwa sikap hawkish pasar terhadap kontrak berjangka Fed menjadi dasar pelemahan ini.

>>> Saham Big Banks Berguguran, Cetak Rekor Terendah Baru

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang lebih tinggi turut menekan harga emas, karena meningkatkan biaya peluang bagi investor.

Di sisi geopolitik, Israel meluncurkan serangan ke target militer di Iran barat dan tengah pada Senin, meskipun Presiden AS Donald Trump meminta PM Israel Benjamin Netanyahu menahan diri.

Meskipun emas secara historis menjadi lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga tinggi cenderung memberikan tekanan pada logam mulia yang tidak menghasilkan imbal hasil.

Data ekonomi AS menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang kuat selama tiga bulan berturut-turut hingga Mei, memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk menyesuaikan kebijakan suku bunga.

Pelaku pasar kini memproyeksikan kenaikan suku bunga oleh Fed sebelum akhir tahun, dengan peluang 72% pada Desember berdasarkan alat FedWatch CME Group.

>>> Bahlil Tugaskan Lemigas Impor 150 Juta Barel Minyak dari Rusia

Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, menyatakan bahwa pasar tenaga kerja mendekati lapangan kerja penuh, dan inflasi yang tinggi mungkin memerlukan kenaikan suku bunga segera.