Pernahkah Anda masuk ke sebuah ruangan namun tiba-tiba lupa tujuan ke sana? Atau membaca paragraf yang sama berulang kali tanpa memahami isinya?

Jika iya, Anda mungkin mengalami brain fog atau kabut otak.

>>> Amanda Manopo Melahirkan Anak Pertama, Bayi Laki-laki Bernama Zac

Kondisi ini bukan sekadar rasa lelah biasa, melainkan gangguan kognitif nyata yang bisa mengganggu produktivitas dan kualitas hidup.

Menurut Ann Marie Warren, PhD, psikolog klinis di Baylor Scott & White Trauma Research Consortium, brain fog bukan diagnosis medis resmi, melainkan istilah untuk sekumpulan gejala di mana pikiran terasa kabur, lambat, dan sulit berpikir jernih.

Gejala yang Paling Sering Terjadi

Setiap orang mungkin merasakan brain fog dengan cara berbeda, namun ada tanda-tanda umum yang menjadi ciri khasnya.

Gejala tersebut meliputi sulit memusatkan perhatian pada tugas yang biasanya mudah, sering lupa melebihi sifat linglung biasa, dan merasa lelah secara mental meski sudah cukup tidur.

Penderita juga kerap kesulitan menemukan kata yang tepat saat berbicara, serta merasa terputus dari lingkungan sekitar.

Dampaknya tidak hanya fisik, tetapi juga emosional, seperti rasa malu saat kehilangan alur pembicaraan atau frustrasi karena pekerjaan sederhana memakan waktu lama.

Apa Sebenarnya Penyebabnya?

Berbeda dengan kelelahan biasa, brain fog sering menjadi sinyal adanya faktor mendasar yang memengaruhi fungsi otak.

Salah satu penyebab yang banyak dilaporkan adalah dampak jangka panjang infeksi virus COVID-19, di mana penderita masih sulit berkonsentrasi berbulan-bulan setelah sembuh.

Selain itu, gangguan tiroid, penyakit autoimun, fibromyalgia, serta perubahan hormon seperti saat perimenopause dan menopause juga bisa memicu gejala serupa.

Stres berkepanjangan meningkatkan hormon kortisol yang merusak kemampuan mengingat dan berkonsentrasi.