Harga Tembaga LME Menguat Dipicu Pembelian Komoditas dari China
Harga tembaga di London Metal Exchange (LME) menguat tipis pada Senin (8/6/2026) setelah mencatat penurunan tajam pada pekan sebelumnya.
Pemulihan ini dipicu oleh aktivitas pembelian komoditas yang stabil dari China serta peningkatan aliran pengiriman logam ke Amerika Serikat.
>>> Bahlil Batalkan Rencana Skema Bagi Hasil Tambang Minerba
Sebelumnya, logam merah tersebut sempat anjlok hampir 3% pada Jumat (5/6/2026), menjadi penurunan harian terbesar sejak pertengahan Maret.
Koreksi harga terjadi setelah laporan pertumbuhan lapangan kerja di AS melampaui prediksi, memicu spekulasi pasar tentang potensi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini.
Kebijakan moneter yang lebih ketat dari bank sentral AS dikhawatirkan dapat memperlambat aktivitas ekonomi global dan menekan konsumsi bahan baku industri, termasuk tembaga dan aluminium.
Namun, penguatan permintaan fisik dari pasar Asia diperkirakan mampu menahan tekanan koreksi lebih lanjut.
"Meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga AS akan mengekang reli logam dasar, permintaan yang stabil akan membatasi penurunan harga tembaga," kata Gao Yin, analis dari Shuohe Asset Management Co.
>>> Pendapatan Itama Ranoraya Tembus Rp 1,1 Triliun pada 2025
Di sisi lain, perdagangan tembaga global sempat terhambat akibat lonjakan biaya energi dan inflasi yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Namun, tenggat waktu keputusan tarif impor baru oleh pemerintahan Trump pada Juni memicu percepatan pengiriman logam ke AS dan mengurangi pasokan di kawasan lain.
Penurunan cadangan pasokan juga terlihat di China.
Data Bursa Berjangka Shanghai pada Jumat menunjukkan volume persediaan tembaga menyusut menjadi 169.512 ton, level terendah sepanjang tahun 2026, mencerminkan kuatnya penyerapan untuk kebutuhan elektrifikasi.
Pada perdagangan Senin pagi pukul 11:08 di Shanghai, kontrak tembaga di LME menguat 0,5% ke posisi US$13.581 per ton.
>>> SCG Chemicals Lepas Saham TPIA Senilai Rp19 Triliun
Sementara itu, pergerakan logam dasar lain bervariasi: timah merosot 1,6% menjadi US$52.085 per ton, dan aluminium naik 0,4% ke level US$3.607 per ton.
Update Terbaru
Kedutaan Iran di Indonesia Jelaskan Serangan Militer ke Palestina Utara
Senin / 08-06-2026, 12:39 WIB
Bocoran Redmi K100 Pro: Snapdragon 8 Elite Gen 5 dan Layar 185Hz
Senin / 08-06-2026, 12:36 WIB
KAI Targetkan Penggabungan Stasiun Karet dan BNI City Selesai November 2026
Senin / 08-06-2026, 12:36 WIB
Ramalan Zodiak Cinta: Capricorn hingga Sagitarius, Tips Jaga Keharmonisan Hubungan
Senin / 08-06-2026, 12:34 WIB
Pemerintah Sentralisasi Ekspor Batubara, Sawit, dan Ferroalloy Lewat BUMN
Senin / 08-06-2026, 12:34 WIB
IHSG Anjlok Hampir 3 Persen, Tertekan Sentimen Global
Senin / 08-06-2026, 12:32 WIB
CIMB Niaga Perkuat Commercial Banking untuk Dukung Ekspansi Bisnis Korporasi
Senin / 08-06-2026, 12:32 WIB
Bank DBS Indonesia Perkuat Pendanaan Lewat RupiahCepat
Senin / 08-06-2026, 12:29 WIB
Christian Eriksen Kembali Pingsan di Laga Denmark vs Ukraina
Senin / 08-06-2026, 12:29 WIB
Dicekal Saat Mau ke Malaysia, Tyo Nugros Batal Tampil di Konser Dewa
Senin / 08-06-2026, 12:29 WIB
Pemerintah Salurkan Bansos PKH Tahap 2 Juni 2026 Secara Bertahap
Senin / 08-06-2026, 12:28 WIB
Florentino Perez Kembali Pimpin Real Madrid hingga 2030
Senin / 08-06-2026, 12:28 WIB
OJK Soroti Dampak Kenaikan BI Rate Terhadap Obligasi Multifinance
Senin / 08-06-2026, 12:28 WIB
Kemenkeu Imbau Warga Waspadai Video Hoaks Menteri Keuangan
Senin / 08-06-2026, 12:28 WIB






