Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada awal pekan ini akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Lonjakan dipicu oleh serangan baru Israel ke Lebanon serta laporan suara ledakan di wilayah Iran.

>>> Perhapi Ragukan Kesiapan Ekspor Batu Bara Satu Pintu Lewat Danantara

Minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Agustus 2026 melesat US$ 3,20 atau 3,39% menjadi US$ 96,24 per barel pada Senin (8/6/2026) pukul 10.30 WIB.

Kenaikan serupa terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI).

Kontrak pengiriman Juli 2026 menguat US$ 2,87 atau 3,17% ke posisi US$ 93,41 per barel.

Pertumbuhan ini menghapus penurunan yang terjadi pada Jumat sebelumnya, saat pasar sempat memproyeksikan de-eskalasi ketegangan antara AS dan Iran.

Kondisi memanas di kawasan Teluk kembali menjadi motor utama pergerakan harga. Media lokal melaporkan suara ledakan di Teheran, Tabriz, dan Isfahan pada Senin pagi.

Situasi tersebut memupus harapan berakhirnya konflik bersenjata dan pembukaan kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz.

Iran sebelumnya meluncurkan gelombang rudal ke target Israel pada Minggu (7/6/2026) sebagai tindakan balasan.

Presiden AS Donald Trump tetap meyakini kesepakatan damai masih berpeluang besar. Trump mengklaim telah meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghentikan gempuran susulan.

>>> Watzke Yakin Haaland Akan Bergabung dengan Real Madrid

"Itu tidak akan berdampak pada kesepakatan," kata Trump kepada Financial Times. "Saya yang menentukan.

Saya yang menentukan segalanya. Dia tidak menentukan segalanya."

Iran menetapkan gencatan senjata di Lebanon sebagai syarat mutlak untuk perjanjian damai dengan Washington. Militer Israel telah menginvasi Lebanon sejak Maret menyusul serangan roket dan drone dari Hizbullah.