OpenAI meluncurkan fitur keamanan terbaru bernama Lockdown Mode pada Senin (8/6/2026) untuk melindungi pengguna ChatGPT dari ancaman serangan siber berupa injeksi perintah atau prompt injection.

Langkah ini diambil untuk menekan risiko eksploitasi data yang semakin meningkat pada platform berbasis kecerdasan buatan (AI).

>>> Dosen Ubah Cara Mengajar karena Mahasiswa Gen Z Sulit Membaca

Serangan prompt injection menyusup melalui instruksi berbahaya yang disembunyikan di halaman web untuk mengelabui sistem.

Lockdown Mode bekerja dengan membatasi ruang siber secara ketat. Saat diaktifkan, pencarian web langsung dinonaktifkan dan sistem hanya mengakses konten cache atau salinan sementara di perangkat.

Pembatasan ini juga menghentikan fungsi penarikan serta tampilan gambar dari web, riset mendalam, dan fungsi Mode Agen.

Meski demikian, OpenAI mengakui bahwa ChatGPT masih memiliki celah kerentanan terhadap prompt injection meskipun mode ini aktif.

Manajemen OpenAI menjelaskan bahwa serangan manipulasi instruksi masih dapat muncul dalam konten web yang di-cache atau dalam file yang diunggah, dan masih dapat memengaruhi perilaku atau keakuratan respons.

>>> Suzuki Luncurkan Jimny Terbaru dengan Fitur ADAS di Malaysia

Meskipun ada keterbatasan, fitur ini dinilai efektif mereduksi potensi kebocoran data sensitif saat serangan siber terjadi.

Karena mekanisme ini membatasi kenyamanan navigasi, OpenAI memproyeksikan fitur untuk segmen pasar yang spesifik.

"Lockdown Mode tidak ditujukan untuk semua orang.

Ini dirancang untuk individu dan organisasi yang menangani data sensitif dan menginginkan perlindungan yang lebih ketat dari risiko kebocoran data terkait injeksi cepat," tulis Manajemen OpenAI.

Saat ini, OpenAI mendistribusikan Lockdown Mode secara selektif kepada pemilik akun ChatGPT Business self-serve.

>>> Hakim AS Tunda Putusan Gugatan 3,8 Juta Bitcoin Terlantar

Fasilitas ini juga tersedia bagi akun pribadi yang telah memenuhi kualifikasi keamanan yang ditetapkan perusahaan.