Depresiasi Rupiah Tekan Industri Alas Kaki, Biaya Bahan Baku Melonjak 40%
Industri alas kaki padat karya kini tertekan akibat depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Lonjakan biaya pembelian bahan baku impor menjadi ancaman serius bagi kelangsungan usaha dan stabilitas tenaga kerja.
>>> Denmark vs Ukraina: Laga Persahabatan di Odense
Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) mencatat pembengkakan biaya pengadaan bahan baku impor mencapai 30% hingga 40%. Kondisi ini menjadi tantangan paling krusial yang dihadapi pelaku industri saat ini.
Depresiasi rupiah yang menyentuh level terendah dalam beberapa tahun terakhir memicu lonjakan ongkos produksi.
Di sisi lain, para pelaku industri tetap berupaya menjaga operasional dan menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Kenaikan dolar mempengaruhi daya beli masyarakat dan kondisi buruh.
Kami masih berupaya menghindari PHK dan memilih bersikap wait and see dalam dua hingga tiga bulan ke depan," ujar Billie kepada Kontan.
co. id, Minggu (7/6/2026).
>>> Andy Roddick Bela Keputusan Mundur Matteo Arnaldi di Roland-Garros
Pelaku usaha sangat berharap stabilitas permintaan dari negara tujuan ekspor utama, khususnya Amerika Serikat dan Eropa, tetap terjaga.
Penurunan serapan pasar akibat perlambatan ekonomi global atau kebijakan tarif baru dikhawatirkan akan memperparah kondisi industri alas kaki domestik.
"Yang penting permintaan ekspor tidak turun, baik ke pasar AS maupun Eropa. Jika permintaan melemah, itu akan mengganggu proses produksi," katanya.
Langkah lindung nilai atau hedging telah diterapkan oleh sejumlah perusahaan untuk meminimalkan risiko fluktuasi kurs. Strategi ini dilakukan demi mempertahankan daya saing harga produk di pasar internasional.
Meski demikian, efektivitas hedging memiliki keterbatasan karena penentuan harga jual produk ekspor umumnya didominasi oleh pembeli luar negeri.
Hal ini membuat ruang penyesuaian harga bagi produsen lokal menjadi sangat sempit.
>>> Aplikasi Penghasil Saldo DANA Banyak Digunakan untuk Tambahan Penghasilan
"Tekanan terbesar saat ini berasal dari pembelian bahan baku impor dan kondisi pasar domestik. Kami berharap permintaan dari buyer ekspor tetap terjaga sehingga produksi dapat terus berjalan," tutupnya.
Update Terbaru
Kemenpora dan NYU Jalin Kerja Sama Bangun Ekosistem Olahraga Indonesia
Kamis / 23-07-2026, 10:15 WIB
China Open 2026: Sabar/Reza Tersingkir di Babak 16 Besar
Kamis / 23-07-2026, 10:14 WIB
Babak Baru Kasus Blueray, Kepala Bea Cukai Kediri Jadi Tersangka
Kamis / 23-07-2026, 10:14 WIB
Mobil Hidrogen Bisa Saingi EV tapi Biaya Produksi Masih Mahal
Kamis / 23-07-2026, 10:14 WIB
Prabowo dan Direktur FBI Bahas Pengembalian Artefak Budaya Indonesia
Kamis / 23-07-2026, 10:14 WIB
DPR AS Loloskan RUU Anggaran Kemhan Rp20.581 Triliun untuk Perangi Iran
Kamis / 23-07-2026, 10:14 WIB
Urgensi Pembatasan Anak di Ruang Digital Lewat PP Tunas
Kamis / 23-07-2026, 10:14 WIB
Asisten Pelatih Argentina Terancam Sanksi FIFA, Diduga Pukul Dani Olmo
Kamis / 23-07-2026, 10:13 WIB
Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra Resmi Meluncur, Harga Mulai Rp30 Jutaan
Kamis / 23-07-2026, 10:13 WIB
4 HP Midrange Samsung Terbaru 2026: Dari Paling Murah hingga Spek Mirip Flagship
Kamis / 23-07-2026, 10:13 WIB
Samsung Perpanjang Dukungan Software Galaxy Watch Terbaru hingga 5 Tahun
Kamis / 23-07-2026, 10:08 WIB
Studi: Jalan Kaki 8.000 Langkah Seminggu Sekali Bisa Perpanjang Umur
Kamis / 23-07-2026, 10:08 WIB
Matt Damon Digantikan Stunt Perempuan saat Syuting Lawan Raksasa di The Odyssey
Kamis / 23-07-2026, 10:08 WIB
6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
Kamis / 23-07-2026, 10:08 WIB







