Namun, mekanisme di wilayah-wilayah ini tidak seluruhnya berupa upwelling pantai klasik.

Peningkatan produktivitas di Laut Arafura diduga dipengaruhi oleh pencampuran massa air akibat embusan angin dan pasang surut di laut dangkal.

Sementara di barat Sumatra hingga Laut Andaman, kenaikan klorofil dipicu interaksi front oseanografi, pusaran arus (eddy), pencampuran massa air, serta imbas dari Teluk Benggala.

Untuk area selatan Selat Makassar, proses vertikal lokal ditengarai berkaitan dengan interaksi Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), topografi dasar laut, tidal pump, eddy, serta gelombang internal.

Sebaliknya, beberapa kawasan lain seperti Selat Malaka, Selat Karimata, Laut Jawa, bagian selatan Laut China Selatan, Laut Halmahera, Laut Sulawesi, hingga perairan Pasifik barat utara Papua dan timur Filipina belum menunjukkan tanda upwelling yang signifikan.

Kondisi perairan di sana relatif hangat dengan tingkat klorofil rendah hingga sedang.

BRIN menyimpulkan bahwa awal Juni 2026 merupakan fase awal (onset) upwelling musim timur 2026 dengan pusat aktivitas di koridor selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor.

Perkembangan fenomena ini tetap harus dipantau secara intensif hingga Juli-Agustus 2026 untuk melihat potensi penguatannya.

"Upwelling yang mulai terdeteksi pada awal Juni ini perlu terus dipantau melalui observasi suhu permukaan laut, salinitas, kecepatan arus vertikal, nutrien, klorofil, dan angin permukaan.

>>> Kemenhag Siapkan Akomodasi Khusus Jamaah Haji Lansia di Madinah

Pemantauan berkelanjutan akan membantu memahami perkembangan fenomena ini sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan secara lebih adaptif," kata Widodo Setiyo Pranowo.