Pemerintah Amerika Serikat tengah menyusun aturan baru yang memungkinkan penyitaan aset Iran untuk menutupi kerusakan akibat serangan di masa depan.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah menginstruksikan audit total kerugian negara-negara Teluk yang menjadi sekutu Washington. Langkah ini diumumkan pada Sabtu (6/6/2026).

>>> QUADRA Pecahkan Rekor MURI dengan Meja Sintered Stone 5 Meter

Aturan baru itu tidak hanya terbatas pada aset Iran yang dibekukan. Hal ini berpotensi memicu ketegangan baru dan merusak gencatan senjata yang rapuh antara kedua negara.

Sebelumnya, penasihat pemimpin tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan bahwa kesepakatan damai untuk mengakhiri perang tiga bulan sangat bergantung pada pencairan aset Iran senilai US$24 miliar yang dibekukan AS.

Serangan Militer dan Balasan Iran

Di sektor militer, pasukan AS melancarkan serangan udara ke situs radar pesisir Iran di Goruk dan Pulau Qeshm di Selat Hormuz pada Sabtu pagi.

Serangan itu dilakukan setelah AS menembak jatuh beberapa drone Iran.

Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim telah menyerang basis militer AS di Kuwait dan Bahrain menggunakan rudal balistik.

>>> Pekerja Aktif Bisa Cairkan Sebagian Saldo JHT BPJS Ketenagakerjaan, Ini Syaratnya

Pentagon menyatakan enam rudal berhasil dicegat dan satu jatuh sebelum mencapai target.

Konflik yang berkepanjangan ini terus mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memicu inflasi global. OPEC+ dijadwalkan bertemu pada hari Minggu untuk menyepakati kenaikan target produksi minyak mentah.

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kapasitas militer Iran telah berkurang signifikan akibat serangan udara AS. "Mereka masih memiliki beberapa rudal dan drone.

Jika dipersentasekan, mungkin sekitar 21% hingga 22% dari total kapasitas awal mereka," ujar Trump.

Sementara itu, negosiasi damai dilaporkan mandek.

>>> Polytron Kenalkan Solusi Motor Listrik di Indonesia Open 2026

Seorang menteri dari Pakistan selaku mediator telah bertolak ke Teheran pada Sabtu untuk menyerahkan surat kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei.