PT Harum Energy Tbk (HRUM) mengalokasikan belanja modal sebesar US$310 juta pada tahun 2026. Langkah ini bertujuan mempercepat ekspansi perusahaan ke bisnis nikel.

Keputusan tersebut menegaskan pergeseran strategi bisnis HRUM dari sektor pertambangan batu bara menuju komoditas mineral berbasis baterai kendaraan listrik.

>>> Manajer Investasi Perkuat Strategi Defensif Hadapi Tekanan Pasar Keuangan

Fokus pendanaan ke sektor nikel sudah terlihat sejak realisasi anggaran belanja pada kuartal I-2026.

Analis: Ekspansi Nikel Dorong Kinerja Keuangan

Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menilai alokasi capex tersebut menunjukkan pergeseran tegas dari batu bara ke bisnis mineral baterai.

Menurutnya, optimalisasi proyek hilirisasi dan pengolahan dapat menjadi motor penggerak utama kinerja keuangan perusahaan pada 2026-2027.

Kenaikan produksi bijih nikel menjadi 8 juta hingga 10 juta wmt berpotensi meningkatkan skala pendapatan. Namun, kontribusi laba sangat bergantung pada efisiensi operasional dan integrasi downstream.

>>> Jadwal Piala AFF U19 2026: Timnas Indonesia vs Vietnam Perebutkan Juara Grup

Meski prospek pertumbuhan tinggi, agresivitas ekspansi berisiko menekan margin keuntungan jangka pendek. Hal ini disebabkan tingginya biaya investasi, beban depresiasi, dan peningkatan biaya pendanaan.

Faktor risiko lain meliputi volatilitas harga nikel global, dinamika siklus kendaraan listrik, eksekusi proyek, serta penurunan target produksi batu bara menjadi 2 juta hingga 3 juta ton.

Sukarno menambahkan bahwa penurunan produksi batu bara mengurangi stabilitas cash flow jangka pendek, sehingga profit menjadi lebih fluktuatif.

Kiwoom Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi beli untuk saham HRUM dengan target harga Rp 900 per saham.

>>> Dinas Pendidikan Sumut Segera Buka SPMB SMA/SMK Jalur Prestasi

Rekomendasi ini didasarkan pada prospek pertumbuhan tinggi di tengah risiko siklikal yang besar.