Tekanan di pasar keuangan domestik masih membebani kinerja industri reksadana secara nasional.

Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi mendorong manajer investasi mengambil langkah antisipasi.

>>> Jadwal Piala AFF U19 2026: Timnas Indonesia vs Vietnam Perebutkan Juara Grup

Para pengelola dana memilih memperkuat strategi defensif demi mempertahankan kualitas portofolio hingga kuartal III 2026.

Data Infovesta per Mei 2026 menunjukkan mayoritas jenis reksadana mencatatkan kinerja negatif.

Reksadana saham menjadi instrumen paling tertekan dengan koreksi 10,22% secara bulanan (MoM) dan merosot 17,66% sejak awal tahun (YtD).

Reksadana campuran melemah 5,13% MoM dan terkoreksi 0,62% YtD.

Sementara itu, reksadana pendapatan tetap membukukan kenaikan tipis 0,22% MoM, meskipun secara YtD turun 0,62%.

Hasil positif masih ditunjukkan reksadana pasar uang yang tumbuh 0,27% MoM dan meningkat 1,60% YtD.

IHSG terus melemah sepanjang pekan hingga berada di level 5.594 pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026).

CEO Pinnacle Investment, Guntur Putra, menilai peningkatan premi risiko yang diminta investor terhadap aset Indonesia menjadi pemicu utama koreksi di pasar saham dan obligasi.

Faktor penentu lainnya adalah suku bunga global yang masih tinggi serta perhatian investor terhadap konsistensi kebijakan pemerintah dan arah kebijakan fiskal ke depan.

"Pandangan kami saat ini cukup berbeda dari konsensus pasar.

Ketika banyak pihak memperkirakan pasar akan menemukan bottom di kisaran 6.100, analitik kami justru mengindikasikan tekanan belum selesai," ujar Guntur kepada Kontan, Jumat (5/6).

Pasar saham domestik dinilai masih berpotensi mengalami tekanan lanjutan jika kejelasan kebijakan dan disiplin fiskal belum membaik.

Berdasarkan perhitungan Guntur, IHSG bahkan berpeluang bergerak hingga di bawah level 5.800.