Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mengusulkan perubahan skema transaksi gas bumi dari Dolar AS menjadi Rupiah.

Usulan ini muncul karena lonjakan nilai tukar yang semakin menekan biaya produksi sektor domestik.

>>> Dokter Ingatkan Risiko Saraf Kejepit Akibat Tren Work From Cafe

Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto, menyebutkan bahwa pelaku industri keramik menghadapi tekanan ganda. Selain kenaikan harga gas, mereka juga harus membayar dalam mata uang asing.

"Jadi pertama, harga gas naik ini kami terpukul. Kedua, kami membayar gas dengan menggunakan US Dollar.

Jadi kita bisa bayangkan ini dua impact nih, makanya selalu saya sampaikan dengan analogi sudah jatuh tertimpa tangga pula ini," ujar Edy.

Menurut Asaki, penggunaan mata uang asing untuk komoditas yang diproduksi dan ditransaksikan di dalam negeri sudah tidak relevan.

Perubahan skema pembayaran dinilai sebagai solusi paling realistis untuk melindungi daya saing industri keramik nasional dari produk impor.

"Kami selalu menyampaikan kenapa tidak kami bayar menggunakan Rupiah? Kan gas ini kan dari bumi Indonesia, transaksi juga di domestik kenapa mesti menggunakan USD?

>>> Slank Rilis Album Republik Fufufafa Bertepatan Hari Lingkungan Hidup

Ini sudah berkali-kali kami keluhkan tapi belum mendapatkan tanggapan," tutur Edy.

Tekanan nilai tukar ini sejalan dengan kondisi pasar uang di mana rupiah ditutup pada level Rp18.012 per dolar AS pada Jumat (5/6/2026).

Sepanjang tahun berjalan 2026, mata uang Indonesia telah melemah 8,01% meskipun sempat menguat 0,19% pada penutupan pekan lalu.

Dampak depresiasi rupiah juga dirasakan sektor industri lain yang bergantung pada bahan baku impor.

Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan bahwa depresiasi rupiah secara langsung meningkatkan harga pokok penjualan dan menekan margin keuntungan.

>>> Transmart Full Day Sale: Diskon Tempat Tidur Hingga 50 Persen, Plus Tambahan 20 Persen

"Bagi sektor-sektor yang sangat bergantung pada impor bahan baku, depresiasi rupiah secara langsung meningkatkan cost of goods sold, menekan margin, dan dalam banyak kasus membatasi kemampuan ekspansi usaha," ujar Shinta.