Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,07 persen secara harian ke level Rp18.036 per dolar AS di pasar spot.

>>> Rating TV Nasional per Minggu, 7 Juni 2026: Siaran Indonesia vs Oman Pimpin Daftar Program Terpopuler

Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mencatat rupiah berada di Rp18.039 per dolar AS, sama dengan posisi penutupan hari sebelumnya.

Analis: Penguatan Terbatas, Rupiah Masih Tertekan

Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo menilai kondisi pasar yang jenuh jual membuka ruang bagi technical rebound jangka pendek.

Namun, ruang apresiasi rupiah sangat terbatas karena likuiditas dolar AS di dalam negeri masih mengalami bottleneck musiman akibat repatriasi dividen kuartal kedua.

Sutopo menambahkan bahwa intervensi Bank Indonesia melalui instrumen pasar spot dan DNDF belum cukup kuat untuk membalikkan tren pelemahan rupiah.

>>> Ahli Ungkap Penyebab Teh Hojicha Beraroma Amis dan Cara Tepat Menyimpannya

Ia memproyeksikan rupiah akan berkonsolidasi di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.100 per dolar AS pada perdagangan Senin (8/6/2026).

Faktor penentu pergerakan selanjutnya adalah respons pasar global terhadap data ketenagakerjaan AS, ketegangan geopolitik Timur Tengah, dan efektivitas kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE).

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai penguatan tipis rupiah terjadi berkat langkah agresif bank sentral, meski tekanan eksternal dan internal masih membayangi.

Ia menambahkan bahwa aksi jual di pasar ekuitas domestik yang masih berlanjut mencerminkan lemahnya sentimen investor.

>>> Mark Lee Tampil Solo Perdana di Baku Azerbaijan Usai Keluar dari NCT

Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah pada Senin (8/6/2026) berada dalam kisaran Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS.