Kenaikan biaya energi, ketidakpastian global, dan pelemahan pasar tenaga kerja dinilai menjadi pemicu tekanan pada konsumsi rumah tangga serta investasi.

Bagaimanapun, ekonomi Indonesia dipandang relatif lebih tangguh dibandingkan negara berkembang lainnya.

Menyikapi tekanan terhadap rupiah, Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas.

Langkah ini dilakukan dengan meningkatkan daya tarik imbal hasil aset domestik demi mendorong masuknya arus modal.

"Dengan kenaikan suku bunga asing, memang terjadi arus keluar. Baik di pasar saham, SBN, dan juga kecil di SRBI.

Oleh karena itu, fiskal dan moneter sepakat untuk saling meningkatkan daya tarik imbal hasil agar arus masuk kembali dan mendukung stabilitas nilai tukar," kata Perry Warjiyo.

Langkah stabilisasi juga dilakukan dengan menjaga kecukupan likuiditas pasar uang dan perbankan.

>>> Asing Borong Saham BUMI Rp 266 Miliar di Tengah Tekanan Pasar

Pemerintah tetap menempatkan pengelolaan kas di BI menggunakan skema imbal hasil yang lebih menarik sebagai bantalan rupiah.