Batas antara hidup dan mati bagi Sitti Amang (47) di laut Selayar hanyalah selembar gabus penahan tubuh dan eratnya pelukan sang suami, Andi Samad.

Selama empat hari tiga malam, Sitti dipanggang sengatan matahari dan ditusuk dinginnya malam lautan perairan barat Pulau Polassi, Kecamatan Bontosikuyu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

>>> Mimpi Besar Motor Listrik Nasional: Bukan Sekadar Proyek Seremonial

Rabu, 15 Juli, menjadi titik awal mimpi buruk bagi para penumpang KM Nurul Salsa. Kapal yang mereka tumpangi mendadak kehilangan keseimbangan di tengah laut.

Kepanikan pecah saat lambung kapal perlahan ditelan ombak. Sitti masih mengingat jelas detik-detik menegangkan saat ia harus meninggalkan kapal demi menyelamatkan nyawa.

"Kapal sudah miring waktu saya turun," kenang Sitti, saat ditemui di ranjang perawatan RSUD KH Hayyung Selayar, Rabu (22/7).

Tenggelamnya KM Nurul Salsa memaksa Sitti, Andi, dan belasan penumpang lainnya terombang-ambing di laut lepas.

Tidak ada sekoci mewah, hanya selembar gabus penangkap asa yang menjadi tumpuan sembilan nyawa di atasnya.

Di atas gabus yang rapuh itu, seleksi alam terjadi dengan kejam. Empat hari tiga malam mereka terapung tanpa arah, dihantam ombak dan dibakar terik matahari.

"Awalnya kami di atas gabus itu ada sembilan orang. Yang selamat hanya lima orang, termasuk Diska Yanti [kerabat].

Empat orang lainnya meninggal dunia," lirih Sitti.

Berperang melawan lapar, dingin, dan keputusasaan

Bertahan hidup di laut lepas bukan hanya soal melawan ombak, melainkan menahan siksaan fisik yang mendera setiap detik.

Tenggorokan yang kering kerontang dan perut yang kosong melompong menjadi teman setia mereka selama lebih dari 90 jam.