Video seorang influencer yang mengonsumsi 11 suplemen sekaligus dalam satu kali minum ramai diperbincangkan di media sosial.

Terlepas dari jenis suplemen dan efek yang dialami, suplemen kini telah dianggap sebagai bagian dari gaya hidup sehat bagi sebagian orang.

>>> Dishub DKI Sediakan 3.687 Kantong Parkir dan 7 Rute Transjakarta untuk CFD Rasuna Said

Suplemen dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi pada kondisi tertentu, namun produk ini bukanlah pengganti pola makan sehat.

Konsumsi suplemen dilakukan ketika kebutuhan nutrisi belum tercukupi atau terdapat kondisi kesehatan khusus.

Tidak semua orang memerlukan suplemen setiap hari.

Menurut panduan dari National Institutes of Health (NIH), kebutuhan suplemen umumnya lebih sering ditemukan pada kelompok tertentu seperti ibu hamil, lansia, individu dengan pola makan terbatas, atau mereka yang memiliki gangguan penyerapan nutrisi.

Memahami kebutuhan tubuh sangat penting sebelum membeli atau mengikuti tren suplemen yang sedang populer.

Mengonsumsi suplemen tanpa alasan yang jelas tidak selalu memberikan manfaat tambahan, bahkan kelebihan vitamin dan mineral justru dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan.

Dosis Harian yang Dianjurkan

Banyak orang beranggapan bahwa semakin banyak vitamin dan mineral yang dikonsumsi, semakin besar pula manfaat yang diperoleh.

Padahal, tubuh memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda-beda dan tidak selalu membutuhkan tambahan dalam jumlah besar.

Di Indonesia, kebutuhan harian vitamin dan mineral telah diatur melalui Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019.

Besaran kebutuhan tersebut disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, serta kondisi tertentu seperti kehamilan dan menyusui.

AKG dapat menjadi acuan untuk menilai apakah asupan nutrisi seseorang sudah mencukupi atau masih memerlukan tambahan dari suplemen.