Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut belum memberikan dampak signifikan terhadap pasar hunian premium dan mewah di Indonesia.

Segmen properti kelas atas masih ditopang oleh konsumen dengan daya beli kuat yang lebih mempertimbangkan kualitas produk dan eksklusivitas dibandingkan faktor harga semata.

>>> Bandai Namco Umumkan Game Aksi Gundam Rogue Orbit di Summer Game Fest 2026

Head of Advisory Services Colliers Indonesia Monica Koesnovagril mengatakan, pasar rumah premium atau luxury merupakan pasar ceruk (niche market) dengan karakteristik berbeda dibandingkan segmen menengah.

Kelompok konsumen pada pasar ini relatif terbatas dan cenderung tetap, sehingga gejolak ekonomi, termasuk pelemahan rupiah, tidak secara langsung mengubah pola permintaannya.

"Selalu ada pasar di sini, walau sangat terbatas. Apakah ini berarti ada peningkatan jumlah orang kaya baru?

Tidak selalu, karena pasarnya tetap," kata Monica.

Menurut Monica, sebagian besar pembelian hunian premium dilakukan untuk kebutuhan sendiri (end user), diversifikasi aset, serta investasi internal keluarga.

Karakteristik tersebut membuat keputusan pembelian tidak terlalu dipengaruhi oleh fluktuasi jangka pendek di pasar keuangan maupun pergerakan nilai tukar.

Kendati demikian, tidak semua produk premium yang dipasarkan pengembang mencatat penjualan yang baik.

Faktor utama yang menentukan keberhasilan penjualan meliputi lokasi strategis dengan prospek investasi yang baik, reputasi pengembang yang teruji, konsep produk yang unik dan sesuai gaya hidup modern, serta tingkat eksklusivitas yang ditawarkan.

Monica juga menuturkan bahwa hunian premium di Indonesia umumnya tidak dibeli untuk mengejar keuntungan investasi jangka pendek.

Hal itu tercermin dari pertumbuhan harga yang relatif terbatas, dengan kenaikan rata-rata maksimal sekitar 5% per tahun.

>>> Baterai Skuter Meledak Picu Kebakaran Hotel Jemaah Haji di Makkah