Ia juga menyoroti risiko global lebih luas, termasuk krisis listrik, kelangkaan pangan, kekurangan tembaga dan logam lainnya, serta krisis air.

Terkait kesiapan menghadapi dampak krisis, China dinilai sebagai negara yang paling siap karena kebijakan pemerintahnya yang matang, meskipun risiko gangguan serupa tetap mengancam jalur pelayaran lain seperti Selat Malaka, Bab El Mandeb, dan Gibraltar.

Proyeksi Rosneft menunjukkan jika Selat Hormuz dibuka kembali dalam waktu dekat, harga minyak global diperkirakan mencapai kisaran US$ 95 hingga US$ 96 per barel pada akhir tahun ini.

Kemudian turun ke US$ 80 hingga US$ 85 per barel dalam satu tahun ke depan sebelum kembali ke fundamental pasar pada paruh kedua 2027.

Igor Sechin juga mengkritik performa aliansi OPEC+ yang dianggap kehilangan potensi setelah keluarnya Uni Emirat Arab, Qatar, dan beberapa negara lain.

"Akibatnya, produksi aliansi tersebut telah turun dari 58 juta barel per hari menjadi 37 juta barel per hari selama 10 tahun terakhir," katanya.

Menurut data internal, mayoritas anggota utama OPEC+ justru menaikkan volume produksi sejak kesepakatan 2016, sementara tingkat produksi minyak Rusia mengalami penurunan sekitar 1,5 juta barel per hari.

"Ini merupakan penurunan sebesar 15% yang harus diimbangi melalui investasi yang diperlukan dengan nilai sedikitnya 10 triliun rubel.

>>> Anak Usaha Telkom Amankan Mitra untuk Seluruh Kapasitas Data Center Batam

Kami berharap kerja sama investasi antara negara-negara anggota aliansi dan negara kami juga akan semakin berkembang," tutup Sechin.