Kepala Eksekutif Rosneft Igor Sechin menilai penutupan Selat Hormuz akibat ketegangan geopolitik telah mengubah dinamika pasar energi global dan memberikan keuntungan kompetitif besar bagi produsen energi Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam St. Petersburg International Economic Forum pada Sabtu (6/6/2026).

>>> Netflix Tunjuk Jay Hoag sebagai Ketua Dewan Direksi Baru

Aksi blokade di jalur pelayaran strategis itu terjadi setelah Iran menutup perlintasan menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Februari 2026.

Sebagai respons, AS juga menerapkan blokade terhadap sejumlah pelabuhan milik Iran.

Keuntungan AS dan Dampak Global

"Penutupan Selat Hormuz merupakan upaya untuk membentuk kembali aturan pasar energi global demi menguntungkan Amerika Serikat," ujar Sechin.

Ia menambahkan bahwa langkah-langkah yang diambil untuk memblokir selat tersebut ditujukan kepada Iran, tetapi justru berbalik merugikan seluruh dunia.

Menurut Sechin, pihak yang paling diuntungkan adalah perusahaan-perusahaan Amerika yang memperoleh keunggulan tidak kompetitif serta kemampuan mengamankan pasokan berbiaya tinggi.

Situasi konflik di Timur Tengah ini turut memicu lonjakan harga minyak dunia, yang berdampak pada kenaikan pendapatan pajak minyak dan gas Rusia sebesar 32,4 persen secara tahunan pada Mei menjadi 678,9 miliar rubel atau sekitar US$ 9,3 miliar.

Di sisi lain, Amerika Serikat memosisikan diri sebagai produsen minyak terbesar di dunia, diikuti oleh Arab Saudi dan Rusia.

Sechin memperingatkan bahwa ketegangan yang terus berlangsung di Selat Hormuz dalam waktu lama akan melemahkan permintaan minyak dalam jangka panjang dan dapat memicu kembali lonjakan minat terhadap energi alternatif.

>>> Jasa Marga Integrasikan Prinsip Keberlanjutan untuk Mitigasi Perubahan Iklim