Tren kenaikan volume produksi listrik berbasis energi bersih terus berlanjut pada kuartal pertama 2026. Pertumbuhan mencapai 15,22 persen menjadi 1.370 GWh secara tahunan.

Direktur Utama PGE Ahmad Yani menjelaskan bahwa masuknya proyek ke Green Book 2026 menjadi wujud pengakuan atas kematangan dan kesiapan proyek eksekusi.

"Kami optimistis penguatan fundamental bisnis, didukung portofolio proyek yang semakin matang, akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan berkelanjutan Perseroan sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional," ujarnya.

Pencapaian finansial dan administratif ini diyakini mampu menekan beban bunga perseroan serta memaksimalkan nilai proyek dalam jangka panjang.

"Selain membantu menjaga struktur pendanaan yang sehat dan mempertahankan cost of debt yang kompetitif, masuknya ketiga proyek ini juga berpotensi meningkatkan keekonomian proyek sehingga dapat memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi Perseroan dan para pemangku kepentingan," kata Ahmad Yani.

PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 yang terletak di Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, sudah mengantongi Power Purchase Agreement (PPA) resmi.

Sedangkan ekspansi kapasitas melalui PLTP Lahendong Unit 7–8 di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, diproyeksikan menaikkan kontribusi pasokan listrik panas bumi di wilayah tersebut dari 30 persen menjadi kisaran 35 hingga 40 persen.

Untuk menjaga laju pertumbuhan bisnis jangka panjang, emiten berkode saham PGEO ini terus berkomitmen menerapkan strategi optimalisasi aset eksisting, perluasan wilayah kerja, hingga diversifikasi lini pendapatan baru.

>>> Lennart Karl Dipastikan Absen dari Piala Dunia 2026 karena Cedera Otot

"Kami meyakini bahwa setiap pengembangan panas bumi tidak hanya menghasilkan energi rendah karbon, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi yang luas melalui penyerapan tenaga kerja, peningkatan ekonomi lokal, dan penguatan ekosistem industri dalam negeri," ujar Ahmad Yani.