Penggunaan baterai non-original atau palsu (KW) pada mobil hybrid tidak langsung menyebabkan kerusakan fatal, namun dapat mengganggu kinerja sistem hybrid dan membuat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) menjadi lebih boros.

Fenomena pemasangan baterai KW masih sering ditemukan di bengkel spesialis. Pemilik kendaraan biasanya mengambil langkah ini untuk menekan biaya servis.

>>> SiTepat Digital Motoshop Buka Outlet ke-31 di Cakung Jakarta Timur

Metode yang umum dilakukan adalah mengganti beberapa sel baterai yang rusak saja, bukan mengganti satu paket komponen secara utuh dengan suku cadang asli.

Skema rakitan ini berdampak pada kesehatan dan keseimbangan daya tampung energi kendaraan.

Sebagai ilustrasi, pada Toyota Camry Hybrid, satu paket baterai terdiri dari 34 sel.

Jika ada lima sel baterai KW, hal itu bisa mempengaruhi kesehatan baterai meskipun hanya beberapa persen.

Masalah utama berasal dari perbedaan karakter kerja antara komponen tiruan dan orisinal. Suku cadang tiruan memiliki kecenderungan pengisian daya yang abnormal.

Sel baterai non-original tercatat lebih cepat mencapai kondisi penuh saat pengecasan, namun dayanya juga lebih cepat habis saat digunakan.

Ketimpangan ini memicu ketidakseimbangan kerja antar-sel dalam satu paket baterai.

>>> Polri Gelar Operasi Patuh 2026 Mulai 8 Juni, 10 Pelanggaran Jadi Sasaran

Battery Management System (BMS) yang mengontrol status kesehatan baterai akan mendeteksi kondisi error tersebut.

Jika ada sel yang penuh lebih awal, sistem proteksi otomatis menghentikan proses pengisian karena menganggap seluruh paket telah penuh.

Hal yang sama berlaku saat pelepasan daya, di mana sistem memaksa membatasi kinerja mobil mengikuti performa sel yang paling lemah.

Penurunan Efisiensi Konsumsi BBM