Namun, jenis ini lebih agresif dan kerap kali baru terdiagnosis saat sudah mencapai stadium lanjut.

Penelitian dalam jurnal CA: A Cancer Journal for Clinicians juga mengonfirmasi bahwa kanker payudara inflamatori memicu penyumbatan pembuluh limfatik di kulit payudara, sehingga menyebabkan pembengkakan dan perubahan tekstur.

Waktu Tepat untuk Memeriksakan Diri

Konsultasi dengan dokter spesialis harus segera dijadwalkan jika menemui gejala seperti kulit payudara menyerupai jeruk, payudara memerah serta terasa panas, atau pembengkakan mendadak.

Pemeriksaan juga mendesak dilakukan jika ada benjolan yang menetap, perubahan bentuk puting, atau keluarnya cairan dari puting.

Dokter umumnya akan menjalankan pemeriksaan fisik, USG, mamografi, hingga tindakan biopsi guna memastikan diagnosis.

Langkah Nyata Menurunkan Risiko

Risiko kanker payudara dapat ditekan melalui penerapan sejumlah kebiasaan dan gaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Menjaga berat badan agar tetap ideal, terutama setelah memasuki masa menopause, sangat disarankan.

Jaringan lemak berlebih dapat memproduksi hormon estrogen lebih banyak, yang berkaitan erat dengan pertumbuhan sel kanker payudara.

Jurnal of Clinical Oncology menerbitkan penelitian yang menunjukkan bahwa perempuan dengan obesitas memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker payudara dibandingkan mereka yang memiliki berat badan sehat.

Rutin berolahraga juga efektif menjaga keseimbangan hormon dan memperkuat sistem imun. American Cancer Society merekomendasikan olahraga intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu untuk menurunkan risiko kanker.

Proses menyusui juga diketahui dapat membantu menurunkan risiko ini. Studi dalam jurnal The Lancet menyebutkan bahwa menyusui membantu menekan paparan hormon tertentu yang memicu kanker payudara.

Langkah terakhir adalah membatasi konsumsi alkohol secara ketat.

>>> Putin Tolak Dialog Damai Zelenskyy, Sebut Tidak Ada Gunanya

Riset dari National Cancer Institute mengindikasikan bahwa konsumsi alkohol, bahkan dalam kadar ringan hingga sedang, tetap berkolerasi dengan peningkatan risiko kanker payudara karena dapat merusak sel tubuh dan mengganggu kadar estrogen.