Nata de coco tetap aman dikonsumsi selama proses produksinya mengikuti standar yang benar.

Hal itu disampaikan Guru Besar IPB bidang Agroindustri dan Bioindustri, Prof Dr Ir Khaswar Syamsu, MSc.

>>> Dokter Anak Imbau Batasi Makanan Olahan dan Gula demi Kesehatan Usus

Menurutnya, penggunaan urea atau amonium sulfat sebagai sumber nitrogen dalam fermentasi merupakan praktik yang lazim. Bakteri Acetobacter xylinum membutuhkan sumber nitrogen untuk tumbuh dan memproduksi selulosa.

Jika tahapan fermentasi hingga pembersihan dilakukan dengan tepat, sisa amonium sulfat, gula, urea, dan asam asetat akan larut dan hilang.

Zat-zat tersebut luruh melalui proses perebusan, perendaman, dan pencucian.

Hasil akhirnya berupa selulosa mikrobial murni yang aman dikonsumsi.

"Jika nata de coco masih berbau atau berasa asam, itu menandakan proses pencuciannya belum sempurna," jelasnya dalam keterangan tertulis MUI.

>>> Transmart Gelar Full Day Sale 7 Juni 2026, Diskon Fashion hingga 70 Persen

Titik Kritis Kehalalan Bahan Baku

Dari aspek kehalalan, auditor LPPOM Mulyorini R Hilwan menyebut titik kritis utama ada pada bahan baku gula.

Proses pembuatan gula kadang menggunakan karbon aktif atau enzim sebagai komponen penolong.

Jika enzim berasal dari hewan, aspek sumber dan penyembelihannya harus sesuai syariat Islam. Aturan yang sama berlaku untuk karbon aktif dari tulang hewan.

Sementara itu, urea sebagai sumber nitrogen tidak memiliki titik kritis kehalalan karena berasal dari bahan kimia murni.

Namun, pembersihan produk akhir harus maksimal agar tidak menyisakan sisa bahan fermentasi.

>>> Unilever Indonesia Bagikan Dividen Final Rp4,33 Triliun untuk Buku 2025

Dengan sistem produksi yang tepat, bahan food grade, dan pencucian menyeluruh, nata de coco dinilai aman dan layak dikonsumsi dari segi keamanan pangan maupun kehalalan.