Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) meminta pemerintah memfasilitasi solusi terkait pasokan dan harga gas bumi. Langkah ini dinilai penting untuk mempertahankan daya saing sektor manufaktur domestik.

Kebutuhan energi menjadi krusial karena lonjakan harga serupa juga terjadi di negara kompetitor Asia Tenggara.

>>> OJK Cabut Izin Usaha LKM Agribisnis Maju Makmur Kalipucang

Thailand misalnya, mencatat harga gas sekitar US$ 12 per MMBTU, sementara Malaysia di kisaran US$ 10 hingga US$ 11 per MMBTU.

Di dalam negeri, produsen keramik lokal hanya mendapat porsi 40 persen pasokan gas dengan harga khusus US$ 7 per MMBTU.

Sisanya harus dibeli dengan harga pasar yang lebih tinggi, sehingga rata-rata pengeluaran energi pabrik mencapai sekitar US$ 15 per MMBTU.

Sektor ini juga menghadapi risiko pemindahan target ekspor dari negara lain yang kelebihan kapasitas produksi ke pasar Indonesia.

"Kondisi ini yang kami khawatirkan karena dapat mengganggu target peningkatan utilisasi industri," ujar Edy dalam keterangan tertulisnya, Jumat (5/6/2026).

Peningkatan operasional pabrik otomatis mendongkrak biaya produksi. Pelaku usaha sangat memerlukan kepastian harga energi agar mampu bersaing menghadapi serbuan produk impor.

Asaki mendorong keterbukaan informasi dari penyedia, terutama PT Perusahaan Gas Negara (PGN), mengenai formulasi tarif yang dibebankan ke sektor manufaktur.

>>> Indonesia Tawarkan Kerja Sama Maritim dan Kereta Api ke Rusia

"Kami tidak selalu meminta fasilitas khusus. Yang kami inginkan adalah industri bisa terus bertumbuh, hidup, dan berdaya saing.

Kami ingin ada transparansi mengenai harga ekspor dan harga yang diterima industri dalam negeri," kata Edy.

Formulasi tarif ini krusial untuk dievaluasi bersama jika harga jual gas untuk ekspor ternyata setara atau lebih murah daripada harga yang dibayar pabrik dalam negeri.