Pada saat bersamaan, terdapat tanggung jawab pembayaran pokok serta bunga utang yang bernilai besar. "Selama ekonomi tumbuh dan penerimaan negara kuat, kondisi ini masih bisa dikelola.

Namun ruang geraknya menjadi lebih sempit jika terjadi guncangan eksternal atau perlambatan ekonomi," kata Yusuf.

Yusuf juga menekankan bahwa kesehatan anggaran negara tidak boleh diukur semata-mata dari defisit yang rendah.

Pasar menggunakan instrumen evaluasi yang lebih luas, meliputi kebutuhan pembiayaan utang, tren beban bunga, mutu belanja, dan konsistensi kebijakan.

Persepsi pasar tersebut pada akhirnya tercermin melalui fluktuasi nilai tukar rupiah. "Itulah sebabnya pergerakan rupiah sering kali menjadi indikator yang penting.

>>> PLN Bagikan Voucher Listrik Rp10 Ribu Lewat Aplikasi PLN Mobile

Nilai tukar mencerminkan bagaimana investor menilai risiko dan kredibilitas kebijakan ke depan," pungkas Yusuf.