Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengingatkan pemerintah untuk tidak terlena dengan rendahnya defisit APBN hingga Mei 2026.

Menurutnya, potensi tantangan besar mengancam pada paruh kedua tahun ini.

>>> Sarwendah Minta Maaf Usai Video Berkata Kasar Viral

Defisit anggaran tercatat sebesar Rp 180,4 triliun atau 0,70% terhadap PDB per Jumat (5/6).

Meski demikian, kondisi keuangan negara masih menunjukkan indikator positif melalui surplus keseimbangan primer.

Pertumbuhan penerimaan pajak yang kuat turut menopang realisasi anggaran pada awal tahun.

Yusuf memahami pernyataan Kepala Badan Kebijakan Fiskal bahwa kondisi masih terkendali, namun ia menyoroti keberlanjutan kinerja fiskal.

"Pertanyaan follow up-nya adalah apakah kondisi tersebut bisa dipertahankan sampai akhir tahun dan dalam beberapa tahun ke depan.

Di sinilah yang perlu ditelisik lebih dalam," ujar Yusuf.

Lonjakan Belanja dan Strategi Front Loading

Sorotan tajam tertuju pada lonjakan belanja pemerintah pusat yang melesat 52,6% secara tahunan hingga mencapai Rp 1.059,3 triliun per Mei 2026.

Angka belanja yang tinggi ini menjadi penopang utama perekonomian nasional.

Pemerintah menerapkan strategi percepatan belanja (front loading) di awal tahun demi mendorong pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

>>> IHSG 3 Juni 2026 Anjlok 4,11% Tertekan Pelemahan Rupiah dan Aksi Jual Asing

Namun, langkah ini dinilai memiliki konsekuensi jika ruang fiskal menyusut di semester berikutnya.

"Strategi seperti ini bisa membuat kinerja fiskal terlihat baik pada tahap awal, tetapi risikonya tekanan justru muncul di semester kedua ketika ruang fiskal mulai menyempit," jelas Yusuf.

Menurut Yusuf, pergerakan tren defisit ke depan lebih krusial untuk diwaspadai ketimbang posisi angka pada bulan Mei.

Realisasi pembiayaan anggaran yang sudah menembus lebih dari separuh target tahunan mengindikasikan tingginya kecepatan penarikan pembiayaan.