Iran kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung kelompok Hizbullah di Lebanon. Teheran juga menuntut penarikan seluruh pasukan Israel dari wilayah selatan Lebanon.

Sikap tegas ini mempersulit langkah Amerika Serikat (AS) dalam mengupayakan kesepakatan damai dengan Teheran. Konflik regional telah bergejolak selama empat bulan.

>>> Macarthur Bulls Perpanjang Kontrak Pemain Keturunan Indonesia Luke Vickery

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan bahwa penyelesaian ketegangan di kawasan sangat bergantung pada situasi di Lebanon.

"Perang ini hanya akan berakhir jika perang di Lebanon juga berakhir," ujar Araqchi dalam wawancara dengan stasiun televisi Lebanon Al Mayadeen, Kamis (4/6/2026).

Abbas Araqchi menambahkan bahwa penghentian bentrokan di Lebanon tidak dapat dipisahkan dari mundurnya militer Israel dari wilayah yang mereka duduki.

Pernyataan tersebut mengemuka setelah Naim Qassem selaku pemimpin Hizbullah menolak draf gencatan senjata usulan AS yang menjembatani Israel dan pemerintah Lebanon.

Rancangan kesepakatan itu tidak memuat poin penarikan tentara Israel, sementara Hizbullah sendiri tidak dilibatkan secara langsung dalam proses diplomasi.

Di sisi lain, Israel tetap menggempur wilayah Lebanon selatan dan menyatakan tidak akan menghentikan operasi militer maupun menarik pasukannya.

Hizbullah mengklaim telah meluncurkan dua serangan terpisah terhadap posisi militer Israel di Lebanon selatan, termasuk di kawasan Kastel Beaufort yang baru saja dikuasai Israel, Jumat (5/6/2026).

Pada saat yang sama, otoritas keamanan Lebanon mengonfirmasi terjadinya sejumlah serangan udara yang dilancarkan Israel di beberapa titik wilayah selatan.

Dukungan terhadap Hizbullah juga disuarakan oleh Mohsen Rezaei, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, saat berada di Teheran.

"Hizbullah telah membuat pengorbanan besar dalam perang terakhir dan mereka adalah sekutu kami. Karena itu kami mendukung Hizbullah dan tetap berkomitmen pada kewajiban kami terhadap mereka," ujarnya.