Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total penyaluran kredit perbankan nasional mencapai Rp8.755 triliun pada April 2026. Angka ini tumbuh 9,98 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Pertumbuhan tersebut lebih cepat dibandingkan capaian Maret 2026 yang sebesar 9,49 persen secara tahunan. Lonjakan ini didorong oleh tingginya permintaan pembiayaan di sektor investasi dan korporasi.

>>> Menkeu Bantah Inverted Yield Curve Tanda Resesi

Kredit Investasi dan Korporasi Pimpin Pertumbuhan

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan bahwa kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi, yaitu 19,48 persen secara tahunan.

Sementara itu, kredit korporasi tumbuh 15,51 persen secara tahunan.

Menurut Dian, dinamika ekspansi dunia usaha dan aktivitas penanaman modal yang terus berjalan menjadi pemicu utama. Hal ini terjadi di tengah volatilitas ekonomi global.

Kredit modal kerja tercatat tumbuh 6,04 persen secara tahunan, sedangkan kredit konsumsi meningkat 6,13 persen.

>>> Perekonomian Indonesia Kuat Hadapi Tekanan Eksternal

Sektor UMKM juga menunjukkan pemulihan dengan pertumbuhan 0,16 persen secara tahunan, naik dari 0,12 persen pada bulan sebelumnya.

OJK menilai fungsi intermediasi perbankan berjalan selaras dengan permodalan dan likuiditas yang tetap kuat.

Rasio kredit bermasalah (NPL) gross berada di level 2,17 persen, dan NPL net sebesar 0,84 persen.

Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga melesat 11,4 persen secara tahunan menjadi Rp10.077 triliun.

>>> Kementerian Hukum Buka Beasiswa S2 dan S3 untuk PNS Tahun 2026

Likuiditas yang melimpah menjadi modal utama bank untuk menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif.