Menkeu Bantah Inverted Yield Curve Tanda Resesi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah bahwa inverted yield curve pada imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) merupakan tanda resesi ekonomi Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers APBN Kita pada Jumat (5/6/2026).
>>> Perekonomian Indonesia Kuat Hadapi Tekanan Eksternal
Lonjakan yield SUN tenor 1 tahun menembus 7,09 persen pekan ini, melampaui tenor 10 tahun di kisaran 6,69 persen, sehingga memicu kurva terbalik.
Purbaya menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi akibat langkah sengaja Bank Indonesia menaikkan instrumen jangka pendek.
"Yang jangka pendek kan dinaikin BI sengaja, lewat SRBI akhirnya inverted tapi bukan menggambarkan itu akan resesi karena tidak pure market condition yang menjalankan itu," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa teori literatur dan perbandingan dengan negara lain belum tentu bisa langsung diterapkan di Indonesia tanpa melihat penyebab utama pergerakan kurva.
"Ini bukan market base, akan ada action dari bank sentral menaikkan yang jangka pendek untuk menarik dolar masuk ke sini, jadi itu bukan tanda resesi," kata Purbaya.
>>> Kementerian Hukum Buka Beasiswa S2 dan S3 untuk PNS Tahun 2026
Pemerintah meminta pasar untuk mencermati intervensi jangka pendek dan melihat data pondasi ekonomi secara menyeluruh.
Menurut Purbaya, fondasi perekonomian domestik saat ini masih dalam kondisi bagus dan mengalami akselerasi ekspansi.
Sementara itu, Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menilai kondisi imbal hasil terbalik sebagai indikasi tekanan pasar jangka pendek yang serius.
"Dalam kondisi normal, imbal hasil tenor panjang biasanya lebih tinggi daripada tenor pendek.
Jika kurva terbalik, artinya pasar lebih khawatir terhadap risiko jangka pendek, seperti kebutuhan likuiditas, arah BI Rate, risiko arus modal keluar, dan penerbitan SBN di tengah pasar yang rapuh," jelas Josua.
>>> Telkom Siapkan Dana Rp4 Triliun untuk Buyback Saham
Josua menekankan bahwa situasi di Indonesia berbeda dengan Amerika Serikat, sehingga kurva terbalik tidak otomatis berarti resesi, melainkan sinyal pasar meminta premi risiko lebih besar untuk tenor pendek.
Update Terbaru
Sistem Tiket Piala Dunia 2026 Error, 60 Suporter Dapat Tiket Gratis
Jumat / 05-06-2026, 21:52 WIB
Jamie Carragher Khawatirkan Penunjukan Andoni Iraola Sebagai Pelatih Liverpool
Jumat / 05-06-2026, 21:52 WIB
Oona Insurance dan Prodigi Luncurkan Asuransi Lapangan Olahraga
Jumat / 05-06-2026, 21:51 WIB
Thailand Sepakat Ikuti Arbitrase Maritim PBB dengan Kamboja
Jumat / 05-06-2026, 21:48 WIB
FIM Diskualifikasi Adrián Fernández dari Enam Balapan Moto3 Akibat Manipulasi Motor
Jumat / 05-06-2026, 21:48 WIB
Bert Verbruggen Tegaskan Belanda Siap Beri Kejutan di Piala Dunia 2026
Jumat / 05-06-2026, 21:48 WIB
Ekonom Ingatkan Risiko Tekanan Fiskal APBN pada Semester II 2026
Jumat / 05-06-2026, 21:47 WIB
Sarwendah Minta Maaf Usai Video Berkata Kasar Viral
Jumat / 05-06-2026, 21:46 WIB
FIFA Terapkan Sistem Braket Baru untuk Piala Dunia 2026
Jumat / 05-06-2026, 21:44 WIB
IHSG 3 Juni 2026 Anjlok 4,11% Tertekan Pelemahan Rupiah dan Aksi Jual Asing
Jumat / 05-06-2026, 21:44 WIB
Timnas Yaman Rebut Tiket Terakhir Piala Asia 2027 Usai Tekuk Lebanon
Jumat / 05-06-2026, 21:42 WIB
PLN Bagikan Voucher Listrik Rp10 Ribu Lewat Aplikasi PLN Mobile
Jumat / 05-06-2026, 21:42 WIB
Indonesia Tawarkan Kolaborasi Giant Sea Wall di Forum Internasional
Jumat / 05-06-2026, 21:41 WIB
Kemenkes Gandeng Swasta untuk Percepat Penurunan Prevalensi Perokok
Jumat / 05-06-2026, 21:40 WIB






