>>> Itel A200 Resmi di Indonesia, Desain Mirip iPhone 17 Pro Max

Ragam kuliner nusantara dari berbagai daerah dinilai layak diangkat menjadi jaringan bisnis berskala nasional.

"Kenapa tidak itu yang didorong pemerintah? Kita punya kekayaan kuliner yang luar biasa," ujar Anang.

Pelaku usaha daerah yang telah beroperasi di atas lima tahun dan memiliki profitabilitas stabil dikategorikan sebagai kandidat kuat untuk masuk ke sistem waralaba.

Karakteristik usaha yang bertahan lama menunjukkan adanya keunikan yang diminati konsumen.

Beberapa produk kuliner khas dari Bogor, seperti Roti Unyil, Asinan Bogor, dan Soto Mie Bogor, disebut sebagai contoh usaha lokal yang potensial diekspansi melalui sistem waralaba.

"Kalau usaha itu sudah berjalan bertahun-tahun dan berhasil, biasanya sudah punya keunikan yang bisa diwaralabakan," kata Anang.

Ketua AFI juga menyoroti ruang usaha di mal modern yang saat ini masih didominasi merek-merek luar negeri.

Keberpihakan regulasi dinilai mendesak untuk membantu pengusaha lokal menembus pusat perbelanjaan strategis.

Pemerintah diharapkan memberikan stimulus nyata, salah satunya berupa insentif bagi pengelola mal agar bersedia mengalokasikan area khusus bagi produk kuliner lokal.

"Harus ada keberpihakan kepada merek lokal supaya mereka bisa masuk dan berkembang di pusat-pusat perbelanjaan," ujar Anang.

Secara global, industri F&B memegang kendali utama dengan menyumbang sekitar 50 hingga 55 persen dari seluruh merek waralaba yang aktif beroperasi.

>>> Chery Mulai Produksi Mobil di Pabrik Nissan Inggris Tahun Depan

Intervensi pemerintah dinilai krusial agar pelaku usaha lokal tidak sekadar menjadi penonton di pasar domestik, melainkan mampu naik kelas menjadi jaringan waralaba yang kompetitif.