Pertumbuhan merek waralaba lokal dinilai masih tertinggal jauh dibandingkan ekspansi waralaba asing di pasar domestik.

Fenomena ini dipicu oleh kecenderungan pelaku usaha daerah yang lebih memilih mengembangkan model kemitraan sederhana daripada membangun sistem waralaba yang baku.

>>> BNI Hadirkan Ekosistem Pembayaran Digital Terintegrasi di Indonesia Open 2026

Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar menjelaskan bahwa jumlah waralaba asli Indonesia tidak menunjukkan pertumbuhan berarti dalam beberapa tahun terakhir.

Hal ini berbanding terbalik dengan menjamurnya sistem kemitraan di masyarakat.

"Kalau saya lihat angka-angkanya, waralaba asing masih jauh lebih banyak. Jumlah yang lokal atau homegrown tidak lebih dari 130 merek.

Dari 2017 sampai sekarang jumlahnya tidak bertambah signifikan. Malahan yang bertambah justru kemitraan," ujar Anang.

Kondisi ini diperparah oleh kerancuan di masyarakat yang sering menyamakan konsep kemitraan dengan waralaba. Padahal, kedua model bisnis tersebut memiliki struktur dan legalitas yang sangat berbeda.

"Menurut saya itu tidak tepat. Sekarang malah bertambah parah.

Banyak yang memanfaatkan istilah kemitraan seolah-olah mendekati waralaba, padahal konsepnya berbeda," kata Anang.

Secara sistemis, waralaba memiliki keunggulan karena didukung standar operasional, manajemen pemasaran, dan keunikan produk yang siap direplikasi.

Sebaliknya, hubungan kemitraan biasa tidak mengikat mitra dalam sistem bisnis yang ketat.

"Waralaba itu konsep pemasaran dan strategi penjualan yang jauh lebih lengkap dan lebih unggul. Ada sistem yang sudah terbukti berhasil dan memiliki keunikan," ujar Anang.

Model bisnis kemitraan yang marak saat ini juga dinilai memiliki risiko keberlanjutan tinggi. Fondasi operasional kemitraan sering kali tidak sekuat waralaba yang telah melalui uji coba pasar matang.

Sektor makanan dan minuman (F&B) sebenarnya menyimpan potensi masif untuk melahirkan waralaba lokal baru.