Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) industri modal ventura masih bertahan di atas 90 persen hingga April 2026.

Berdasarkan data statistik OJK, BOPO modal ventura pada Januari 2026 berada di angka 91,88 persen. Angka tersebut naik menjadi 93,45 persen pada Februari 2026.

>>> Cara Menghitung Denda Keterlambatan Iuran BPJS Kesehatan

Lonjakan terus terjadi hingga Maret 2026 yang mencapai 98,03 persen. Pada April 2026, rasio sedikit turun ke posisi 97,63 persen.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman menyampaikan evaluasi tersebut dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner OJK pada Jumat (5/6).

"Artinya, ada sedikit perbaikan. Apa angkanya masih di atas 90%?

Iya, betul," kata Agusman.

Tingginya BOPO dipengaruhi karakteristik operasional industri yang bertumpu pada skema penyertaan modal atau Venture Capital Corporation (VCC).

>>> Fresh Graduate Hadapi Pasar Kerja Tersulit Jelang Paruh Kedua 2026

"Jadi, pendapatan operasional tidak selalu ada tercatat rutin setiap bulan, sedangkan beban operasionalnya tetap berjalan terus. Dengan demikian, hal itu jadi dasar latar belakangnya," tutur Agusman.

OJK merumuskan langkah strategis untuk mengatasi tingginya beban operasional, antara lain penguatan tata kelola biaya dan peningkatan efisiensi kerja internal.

"Paling penting adalah peningkatan efektivitas penagihan, khususnya bagi modal ventura yang menjalankan kegiatan berbasis utang atau Venture Debt Corporation (VDC), dengan tetap memperhatikan pelindungan konsumen," ucap Agusman.

Di sisi lain, nilai pembiayaan modal ventura pada April 2026 terkoreksi 0,87 persen secara tahunan menjadi Rp16,35 triliun.

>>> 5 Cara Mudah Cek Nomor BPJS Ketenagakerjaan yang Lupa atau Hilang

Namun, total aset industri justru tumbuh 3,31 persen year-on-year mencapai Rp27,73 triliun.