Risiko Tidak Langsung Pelemahan Rupiah

Meski demikian, OJK menilai pelemahan rupiah tetap berpotensi menimbulkan risiko tak langsung terhadap sektor keuangan. Salah satunya melalui meningkatnya beban kewajiban valas yang harus ditanggung korporasi.

Risiko lain berasal dari sektor usaha yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor.

Kiki menjelaskan, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya bahan baku dan biaya operasional perusahaan, terutama apabila diikuti kenaikan harga komoditas energi global.

"Kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi kualitas aset perbankan melalui penurunan kemampuan bayar debitur yang terdampak," katanya.

Untuk itu, selain memperkuat pemantauan harian terhadap posisi devisa neto dan likuiditas valas, OJK juga akan meningkatkan supervisory dialogue dengan bank-bank yang menunjukkan akumulasi posisi tertentu.

Langkah itu dilakukan untuk memastikan penerapan manajemen risiko pasar dan risiko likuiditas berjalan secara memadai.

Di sisi lain, OJK akan terus mempererat koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) guna memastikan kecukupan likuiditas valas di sistem keuangan tetap terjaga.

>>> Anggaran Keamanan Siber Sektor Jasa Keuangan Dinilai Krusial

Kiki menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah merupakan kepentingan bersama seluruh pemangku kepentingan di sektor keuangan.