Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana domestik tetap mencatat pertumbuhan sebesar 1,55 persen secara year to date (ytd) hingga mencapai Rp685,76 triliun pada akhir Mei 2026.

Pertumbuhan ini terjadi di tengah koreksi signifikan yang menekan pasar saham Indonesia, berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dikutip dari Bloomberg Technoz.

>>> 4 Jenis Makanan dan Minuman yang Diam-Diam Bikin Gula Darah Melonjak

Net Redemption Terjadi, tetapi Net Subscription Tetap Positif

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa pada Mei 2026 terjadi net redemption sebesar Rp1,77 triliun.

Namun, sejak awal tahun, investor reksa dana masih membukukan net subscription yang signifikan sebesar Rp21,61 triliun.

Hal ini disampaikan Hasan dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner OJK secara daring pada Jumat (5/6/2026).

Kondisi kontras terlihat di pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.127,38 di akhir Mei 2026.

Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 11,92 persen secara month on month serta melemah 29,14 persen secara ytd.

Penurunan ini dipicu oleh penyesuaian portofolio investor asing yang mencatatkan jual bersih Rp4,1 triliun.

>>> Kebiasaan Sederhana yang Konsisten Lebih Pengaruhi Kebahagiaan daripada Harta

Faktor eksternal dan internal turut memicu dinamika pergerakan dana investor di pasar modal sepanjang periode tersebut.

Menurut Hasan, pasar saham domestik mengalami fase tekanan dan konsolidasi sepanjang Mei 2026 di tengah tingginya ketidakpastian, baik dari domestik maupun global.

Di sektor pembiayaan, pasar modal masih produktif menghimpun dana korporasi hingga Mei 2026 yang mencapai Rp68,18 triliun.

Terdapat 75 pipeline penawaran umum dengan nilai indikatif Rp64,26 triliun.

OJK bersama Self-Regulatory Organization berkomitmen mengawal kelancaran transaksi di masa transisi ini.

>>> Imigrasi Sumut Siapkan Layanan Khusus Jelang Trail Of The Kings 2026

Hasan menambahkan bahwa kebijakan stabilisasi pasar yang saat ini diberlakukan dinilai masih relevan dan efektif untuk menjaga stabilitas pasar modal ke depan.