Kemampuan literasi teknologi kini menjadi kompetensi yang semakin dicari oleh industri.

Perusahaan tidak lagi sekadar memburu lulusan yang menguasai teori akuntansi, melainkan juga figur yang mampu beradaptasi dan bekerja dalam lingkungan bisnis berbasis data.

>>> Profil Hassan Alaydrus Selebgram yang Kini Resmi Menikah dengan Audrey Jesslyn, Lengkap:Umur, Agama dan Instagram

Perkembangan Artificial Intelligence (AI), otomatisasi, dan transformasi digital telah mengubah cara kerja industri keuangan serta akuntansi secara fundamental.

Profesi akuntan kini berevolusi dari fokus pembukuan dan administrasi keuangan menjadi mitra strategis bisnis yang menuntut kemampuan analitis tinggi.

Transformasi ini mendorong pergeseran kebutuhan pasar kerja terhadap talenta baru. Perusahaan aktif mencari lulusan akuntansi yang memahami laporan keuangan sekaligus tangkas beradaptasi dengan ekosistem digital.

Survei dari Deloitte Center for Controllership mencatat, lebih dari 80% profesional keuangan dan akuntansi yakin AI akan menjadi alat utama dalam profesi ini dalam lima tahun ke depan.

Di sisi lain, studi KPMG Digitalization in Accounting 2025/2026 menunjukkan 53% perusahaan telah memakai AI atau sedang menyiapkan implementasinya.

Peningkatan adopsi teknologi ini juga diperkuat oleh Data Intuit 2025 Technology Survey.

Data tersebut menunjukkan bahwa 64 persen firma akuntansi berencana meningkatkan investasi pada AI dalam satu tahun ke depan, sementara 95 persen telah mengotomatisasi minimal satu fungsi operasional.

Namun, studi Future-Ready Digital Skills in the AI Era menemukan adanya kesenjangan antara kebutuhan industri dan kesiapan lulusan.

Kesenjangan ini terutama terjadi pada ranah kemampuan digital, literasi AI, serta kompetensi berbasis teknologi.

Integrasi Akuntansi dan Teknologi di BINUS University

Merrespons celah tersebut, BINUS University melalui School of Accounting mengintegrasikan ilmu akuntansi dan teknologi.