Kementerian Keuangan melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Mei 2026 mencapai Rp180,4 triliun.

Angka tersebut setara dengan 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

>>> Menag Ajak Pesantren Jadi Solusi Masalah Bangsa, Jangan Terjebak Romantisme Sejarah

Defisit ini melonjak signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp20,9 triliun atau 0,09 persen PDB.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa posisi defisit saat ini masih jauh di bawah target tahun 2026 yang dipatok minus Rp689,1 triliun atau 2,68 persen PDB.

Meski defisit secara keseluruhan, keseimbangan primer APBN justru mencatat surplus Rp58,6 triliun hingga Mei 2026.

Namun surplus ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp192,2 triliun.

Ketimpangan anggaran terjadi karena penerimaan negara tumbuh lebih lambat dibandingkan belanja negara.

>>> Pemerintah Terapkan PPh Final Royalti Penulis 1,5 Persen

Realisasi pendapatan negara tercatat Rp1.185 triliun hingga Mei 2026, tumbuh 19,1 persen dibanding periode sama tahun lalu.

Pencapaian tersebut setara 37,6 persen dari target APBN sebesar Rp3.153 triliun.

Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp1.365,4 triliun, melonjak 34,4 persen dibanding Mei 2025.

Belanja tersebut setara 35,5 persen dari total target belanja Rp3.842 triliun.

>>> Video Klarifikasi dan Permintaan Maaf Sarwendah Usai Bahas Rp200 Juta dan Sosok 'Cong'

Melonjaknya belanja membuat realisasi pembiayaan anggaran mencapai Rp379,4 triliun, tumbuh 16,2 persen dari periode sama tahun sebelumnya yang senilai Rp326,5 triliun.