Industri karoseri di Indonesia tengah tertekan akibat membanjirnya truk impor asal China. Penurunan pemesanan yang signifikan membuat banyak pelaku usaha lokal terancam gulung tikar.

Berdasarkan data awal tahun 2026, jumlah karoseri yang masih aktif di Jawa Barat menyusut drastis menjadi hanya 230 unit.

>>> Siklus Kepemilikan Mobil Melama, Auto2000 Pacu Bisnis Purnajual

Padahal sebelumnya terdapat sekitar 320 karoseri yang beroperasi di wilayah tersebut.

Direktur PT Metalindo Teknik Utama (MTU), Syarifuddin Tangka, mengungkapkan bahwa banyak karoseri yang sudah tidak aktif atau mati suri.

"Itulah kondisi teman-teman kita," ujarnya di pabrik Karoseri MTU, Karawang.

Regulasi Tidak Adil

Syarifuddin menjelaskan bahwa kendaraan komersial asal China masuk ke Indonesia dalam format Complete Build-Up (CBU) atau siap pakai lengkap dengan baknya.

Kondisi ini membuat importir tidak perlu memenuhi batasan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

>>> Wuling Motors Ungkap Alasan Belum Rilis Harga Baterai Eksion PHEV

Akibatnya, pelaku industri otomotif domestik merasa dirugikan. "Ini yang betul-betul mematikan kustomer kami.

Yang biasa order 30-50 unit per bulan, sekarang paling hanya 1-2 unit," kata Syarifuddin.

Asosiasi Karoseri Indonesia (Askarindo) telah berulang kali menyuarakan kegelisahan ini kepada kementerian terkait. Selain masalah TKDN, ketimpangan juga terjadi pada regulasi emisi dan dimensi kendaraan.

"Kita dibatasi aturan ODOL, sementara truk impor dari sisi emisi masih Euro2 atau Euro3, padahal kita dipaksakan Euro4.

>>> Teknisi Ungkap Penyebab dan Solusi Kerusakan Baterai Motor Listrik

Ini betul-betul miris," tutur Syarifuddin. Ia menambahkan bahwa truk impor juga tidak terikat aturan dimensi yang ketat.