Tekanan pada pasar otomotif nasional mendorong pelaku industri mencari sumber pendapatan baru di luar penjualan kendaraan baru.

Layanan purnajual, seperti perawatan dan penyediaan suku cadang, kini menjadi ceruk bisnis yang menjanjikan bagi jaringan diler.

>>> Wuling Motors Ungkap Alasan Belum Rilis Harga Baterai Eksion PHEV

Chief Executive Officer (CEO) Auto2000, Anton Jimmi Suwandy, menjelaskan bahwa dinamika industri otomotif saat ini tidak boleh hanya diukur dari angka penjualan unit semata.

Potensi besar justru muncul dari sektor perawatan kendaraan karena adanya pergeseran perilaku konsumen.

"Kita banyak melihat market otomotif, sekali lagi, hanya dari penjualan mobil. Tapi sebenarnya banyak juga dari kebutuhan service.

Karena dulu kalau orang ganti mobil mungkin 3-4 tahun. Sekarang bergeser 4-5 tahun, ada yang 6-7 tahun," kata Anton di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Melamanya siklus kepemilikan ini otomatis meningkatkan urgensi pemeliharaan berkala secara rutin. Perawatan yang konsisten dibutuhkan agar performa mobil tetap prima sekaligus menjaga nilai jual kembalinya tetap tinggi.

Menurut Anton, bengkel resmi umumnya memiliki basis pelanggan yang kuat untuk kendaraan yang masih dalam masa garansi.

Namun, tren terbaru memperlihatkan peningkatan volume pemilik mobil berusia di atas lima tahun yang kembali memilih fasilitas resmi.

"Nah ini kan butuh servis. Nah, selama ini kita kuat memberikan pelayanan servis kepada konsumen dari 1-3 tahun.

Itu cukup kuat. Kenapa?

Masih ada waranti," ujarnya.

"Setelah waranti ini masih ada potensi.

Dan sekarang mulai banyak konsumen yang masuk ke bengkel resmi untuk kendaraan yang usianya di atas 4-5 tahun, bahkan 6 tahun," lanjut Anton.

Auto2000 memanfaatkan pergeseran tren ini sebagai strategi untuk menjaga pertumbuhan bisnis saat pasar mobil baru belum pulih total.