Sebuah desa bernama Jambi di Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, memiliki kemiripan nama dengan provinsi di Pulau Sumatera.

Kisah yang berkembang secara turun-temurun mengaitkan tempat ini dengan jejak pasukan Melayu dari Kerajaan Sriwijaya.

>>> Kementerian ESDM Evaluasi Skema Bagi Hasil Tambang Minerba

Menurut cerita yang dihimpun dari Detik Travel, pasukan dari Sumatera itu konon pernah singgah dan terlibat pertempuran di wilayah Anjuk Ladang.

Peristiwa ini diperkirakan terjadi pada masa pemerintahan Pu Sindok sekitar abad ke-10.

Masyarakat setempat meyakini pasukan Melayu berlayar menggunakan armada kapal perang melalui jalur Sungai Brantas kuno. Mereka kemudian mendarat di sebuah pelabuhan kuno bernama Bandaralim.

Kondisi geografis berupa area persawahan yang membentang dari selatan ke utara di Desa Jambi juga dipercaya warga sebagai bekas aliran Bengawan Brantas Kuno.

Cerita Lisan dan Temuan Arkeologi

Petugas Dinas Porabudpar Nganjuk, Aries Trio Efendi, mengatakan cerita tentang hubungan Desa Jambi dengan pasukan Melayu masih sebatas tutur lisan.

"Belum pernah dilakukan kajian maupun penelitian khusus untuk memastikan kebenaran cerita tersebut," ujarnya.

>>> Pendiri Anthropic Desak Regulasi untuk Kendalikan Perkembangan AI

Meski demikian, terdapat sejumlah peninggalan sejarah di sekitar Desa Jambi.

Salah satunya adalah Prasasti Wwahan di Dusun Bandaralim, Desa Demangan, Kecamatan Tanjunganom, yang terletak di sisi barat Desa Jambi.

Namun, prasasti itu berasal dari masa Raja Dharmawangsa Teguh sekitar tahun 1016 Masehi, bukan dari periode Pu Sindok.

Warga juga menemukan reruntuhan bangunan yang diduga candi, tetapi belum teridentifikasi.

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nganjuk, Sukadi, menambahkan asal-usul nama Desa Jambi memiliki banyak versi.

Nama Jambi telah tercantum dalam Prasasti Bangle I dari tahun 908 Masehi, era Raja Dyah Balitung dari Kerajaan Medang.

>>> Mayora Indah Targetkan Laba Bersih Naik 17,3% Jadi Rp 3,41 Triliun pada 2026

"Di prasasti itu nama Jambi sudah disebut," ujar Sukadi. Versi lain menyebut nama desa berasal dari pohon jambe yang dulu banyak tumbuh di kawasan tersebut.