Pendiri Anthropic Desak Regulasi untuk Kendalikan Perkembangan AI
Jack Clark, salah satu pendiri perusahaan kecerdasan buatan Anthropic, mendesak perlunya regulasi untuk mengendalikan laju perkembangan teknologi AI.
Menurutnya, industri saat ini hanya memiliki 'pedal gas' tanpa 'pedal rem'.
>>> Mayora Indah Targetkan Laba Bersih Naik 17,3% Jadi Rp 3,41 Triliun pada 2026
Kekhawatiran ini muncul setelah chatbot Claude milik Anthropic beroperasi dengan 80 persen kode yang ditulis sendiri oleh sistem.
Clark memproyeksikan angka 100 persen dapat tercapai dalam dua tahun ke depan.
"Anda tentu menginginkan opsi untuk bisa melepaskan kaki dari pedal gas dan menginjak pedal rem.
Saat ini industri AI ibaratnya hanya memiliki pedal gas, tanpa pedal rem," kata Clark.
Ia menekankan pentingnya peran masyarakat melalui kebijakan pemerintah untuk tetap memegang kendali atas sistem AI yang semakin kuat.
"Dunia perlu merenungkan hal ini dan pada akhirnya kita harus menyusun sejumlah regulasi baru yang membuat kita merasa yakin dan aman," ujarnya.
Clark menyamakan situasi ini dengan ledakan industri minyak di masa lalu.
Respons masyarakat saat itu adalah merumuskan kebijakan dan kerangka regulasi yang masuk akal, sehingga tidak perlu lagi mengkhawatirkan karakter pemimpin perusahaan.
>>> Shakira Tampil di Pembukaan Piala Dunia 2026 di Meksiko
Di sisi lain, Anthropic menyambut baik perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump tentang AI yang tidak mewajibkan pengujian keamanan oleh pemerintah.
Perusahaan yang didirikan lima tahun lalu ini kini bersiap melantai di bursa dengan valuasi hampir USD 1 triliun.
Clark menegaskan bahwa langkah Anthropic membahas peningkatan kapabilitas AI ke publik bukan untuk kepentingan komersial, melainkan transparansi.
Sebelumnya, Anthropic berselisih dengan Departemen Pertahanan AS terkait penggunaan AI untuk pengawasan massal dan peperangan otonom.
"Saya khawatir akan nasib anak-anak saya jika kita sebagai masyarakat tidak melakukan pembicaraan serius mengenai makna dari implikasi kemajuan AI yang terus berlanjut.
Ada potensi manfaat yang besar, namun ada pula risiko-risikonya," ungkap Clark.
Risiko nyata sudah mulai terlihat, seperti PHK massal di perusahaan teknologi besar karena AI mampu menggantikan pekerjaan engineer.
>>> Manipulasi Psikologis Dominasi Lonjakan Kejahatan Siber di Indonesia
Namun, Clark menambahkan, "Masih ada pertanyaan yang belum terjawab mengenai apakah sistem AI bisa benar-benar kreatif, belum ada bukti nyata untuk itu saat ini."
Update Terbaru
BPK Temukan Potensi Kerugian PT BTN Rp1,33 Triliun Akibat KPR Bermasalah
Jumat / 05-06-2026, 12:08 WIB
Truk Impor China Ancam Industri Karoseri Nasional, Banyak Usaha Gulung Tikar
Jumat / 05-06-2026, 12:07 WIB
Film Animasi Garuda Di Dadaku Tayang 11 Juni 2026, Bertepatan Piala Dunia
Jumat / 05-06-2026, 12:07 WIB
Chen Yu Fei Hentikan Langkah Putri Kusuma Wardani di Perempat Final Indonesia Open 2026
Jumat / 05-06-2026, 12:07 WIB
Makna Spiritual dan Praktik Ayat Summum Bukmun Umyun dalam Kehidupan
Jumat / 05-06-2026, 12:05 WIB
Cara Mudah Sedekah Subuh dari Rumah, Tak Perlu ke Masjid
Jumat / 05-06-2026, 12:05 WIB
Kemendikdasmen Umumkan Rata-rata Nilai TKA SD dan SMP 2026
Jumat / 05-06-2026, 12:05 WIB
Sikapi FOMO Anak terhadap Idola, Orangtua Jangan Langsung Melarang
Jumat / 05-06-2026, 12:04 WIB
Telkom Indonesia Buka Suara soal OTT Komisaris Silmy Karim
Jumat / 05-06-2026, 12:04 WIB
Timnas U19 Indonesia Kalahkan Timor Leste 3-0 di Piala AFF
Jumat / 05-06-2026, 12:04 WIB
Kemendikdasmen Salurkan PIP Termin Kedua hingga September 2026
Jumat / 05-06-2026, 12:02 WIB
Panduan Urutan Dzikir dan Doa Setelah Sholat Hajat
Jumat / 05-06-2026, 12:02 WIB
AS Kenakan Tarif Tambahan 10% untuk Indonesia, Ini Respons Pemerintah
Jumat / 05-06-2026, 12:02 WIB
Timnas Jepang Protes Fasilitas Latihan Buruk di Piala Dunia 2026
Jumat / 05-06-2026, 12:00 WIB






