Pemerintah Jepang bersiap mengambil langkah tegas di pasar valuta asing untuk mengatasi depresiasi yen yang telah menyentuh level psikologis 160 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (5/6/2026).

Otoritas moneter setempat terus memantau pergerakan mata uang yang kian tertekan akibat aktivitas spekulatif pasca-konflik Timur Tengah sejak Februari lalu.

>>> Pyridam Farma Resmikan Fasilitas Injeksi Steril Baru di Cikarang

Batas kritis ini memicu spekulasi kuat di kalangan pelaku pasar mengenai potensi intervensi valuta asing lanjutan oleh Tokyo.

Pernyataan Pejabat Jepang

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menjelaskan posisi pemerintah dalam menghadapi gejolak pasar keuangan yang tidak stabil tersebut dalam sidang parlemen.

"Di pasar valuta asing, kami akan respons secara tepat setiap saat apabila diperlukan," ujar Katayama.

Ia menilai pergerakan berlebihan belakangan ini didorong oleh aksi spekulasi di tengah situasi geopolitik global.

Langkah stabilitas pasar ini tetap didasarkan pada komitmen bilateral yang telah disepakati bersama otoritas keuangan Washington.

"Jepang memiliki hak untuk mengambil tindakan tegas terhadap pergerakan yang terlalu bergejolak," kata Katayama.

Perdagangan mata uang pada akhir pekan mencatatkan yen bertengger di posisi 160,015 per dolar AS, mengulang posisi terendah yang sempat terjadi pada akhir April lalu.

>>> Anak Digital Native: Cepat Adaptasi Teknologi tapi Belum Kritis

Menanggapi penurunan nilai tukar tersebut, strategi pemulihan ekonomi jangka panjang juga disiapkan oleh kepala pemerintahan.

"Cara terbaik menjaga nilai yen dalam jangka panjang adalah meningkatkan daya saing ekonomi Jepang melalui investasi di sektor-sektor pertumbuhan," ujar Perdana Menteri Sanae Takaichi.

Dampak Intervensi Sebelumnya

Data terbaru dari Kementerian Keuangan Jepang mengonfirmasi adanya penurunan cadangan devisa sebesar US$ 77,1 miliar menjadi US$ 1,306 triliun pada Mei akibat aksi intervensi sebelumnya.

Penyusutan drastis ini diduga kuat berasal dari pelepasan aset surat berharga luar negeri milik pemerintah.

"Kelihatannya obligasi pemerintah AS dijual untuk mendanai intervensi pasar.

Tokyo telah menunjukkan kesediaannya menjual Treasury AS untuk membiayai operasi semacam itu," ujar Tsuyoshi Ueno, Ekonom Senior NLI Research Institute.

Penurunan cadangan devisa sebesar 5,6% secara bulanan ini tercatat sebagai yang terbesar dalam sejarah keuangan Jepang.

>>> Purbaya Yudhi Sadewa Bantah Isu Mundur dari Jabatan Menteri Keuangan

Pelaku pasar kini mengantisipasi realisasi tindakan tegas berikutnya dari pemerintah Jepang jika fluktuasi yen terus menembus batas toleransi.