Sebanyak 500 gerai akan dibuka langsung oleh perusahaan, sedangkan 300 gerai lainnya melalui skema waralaba. Lebih dari separuh ekspansi tersebut akan diarahkan ke luar Pulau Jawa.

Perseroan melihat pertumbuhan pasar ritel modern dalam beberapa tahun terakhir mulai bergeser dari kawasan Jabodetabek menuju daerah-daerah yang tingkat penetrasi ritelnya masih rendah.

Pada kuartal I/2026, grup Alfamart telah menambah 211 gerai baru.

Untuk mendukung ekspansi tersebut, perusahaan menyiapkan belanja modal sekitar Rp500 miliar yang seluruhnya diupayakan berasal dari arus kas internal.

"Seperti beberapa tahun terakhir, ekspansi masih dapat dibiayai dengan internal cash flow kita," ujar Tomin.

Alfamidi dan Hypermart: Optimis Berdampingan

Pandangan serupa disampaikan PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI).

Pengelola jaringan Alfamidi itu menilai KDMP dan ritel modern memiliki target pasar yang berbeda sehingga dapat berkembang secara berdampingan.

Direktur Corporate Legal dan Compliance MIDI Afid Hermeily mengatakan hingga saat ini berbagai wacana pembatasan operasional maupun ekspansi ritel modern di sejumlah daerah juga belum memberikan dampak material terhadap perusahaan.

"Kami melihat segmentasi bisnis yang berbeda sehingga pembatasan saat ini belum berdampak terhadap perseroan.

Namun demikian, kami tetap tunduk dan patuh terhadap seluruh regulasi yang berlaku, termasuk ketentuan yang ditetapkan pemerintah daerah," ujarnya.

MIDI tetap menjalankan agenda pertumbuhan organik.

Perseroan menargetkan pembukaan sekitar 200 gerai baru sepanjang tahun ini dengan dukungan belanja modal sekitar Rp1,5 triliun.

>>> BNI Catatkan Penerbitan AT-1 Rp12,6 Triliun sebagai Modal Inti Tambahan

Dana tersebut tidak hanya digunakan untuk ekspansi gerai, tetapi juga memperkuat infrastruktur operasional dan pengembangan layanan digital.

Hingga Maret 2026, jumlah gerai MIDI mencapai 2.627 unit atau bertambah 40 gerai dibandingkan akhir tahun lalu.