Bisnis. com, Jakarta — Kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) belum menggoyahkan strategi ekspansi pelaku ritel modern.

Sejumlah emiten ritel justru tetap agresif menambah gerai baru sepanjang 2026. Mereka menilai koperasi desa dan ritel modern menyasar segmen pasar yang berbeda.

>>> Sarwendah Klarifikasi Video Viral: Ucapan Tak Butuh Uang Lelaki Bukan untuk Ruben Onsu

Respons tersebut muncul di tengah perhatian pasar terhadap potensi dampak program KDMP terhadap industri ritel.

Bursa Efek Indonesia bahkan telah meminta penjelasan kepada sejumlah emiten terkait pengaruh program tersebut terhadap operasional dan prospek bisnis mereka.

Alfamart: Segmen Berbeda, Ekspansi Tetap Jalan

PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT), pengelola jaringan Alfamart, menilai dampak KDMP terhadap kinerja perseroan masih belum dapat diukur secara langsung.

Perseroan berpendapat karakteristik konsumen yang dilayani masing-masing format usaha berbeda.

Direktur Corporate Affairs AMRT Solihin mengatakan fokus utama perusahaan saat ini tetap pada peningkatan kualitas layanan dan penguatan digitalisasi.

"Kalau ditanya bagaimana pengaruhnya terhadap kinerja, saat ini kami fokus terhadap pelayanan dan bagaimana manajemen terus meningkatkan kualitas layanan karena segmennya pasti berbeda," ujarnya dalam Public Expose, Kamis (4/6/2026).

Meski membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk KDMP, hingga saat ini belum ada pembicaraan maupun pengajuan kerja sama yang masuk ke perusahaan.

"Untuk kerja sama, siapa pun bisa saja. Tetapi saat ini memang belum ada permintaan kerja sama yang diajukan kepada kami terkait hal tersebut," katanya.

Keyakinan bahwa KDMP belum mengganggu prospek bisnis tercermin dari tetap agresifnya rencana ekspansi Alfamart tahun ini.

Corporate Secretary AMRT Tomin Widian mengatakan perseroan menargetkan pembukaan 800 gerai baru sepanjang 2026.