>>> Perjalanan Telkomsel 31 Tahun dan Peran Penting BJ Habibie

Dalam pidatonya, Schmidt mengatakan AI akan memengaruhi hampir semua bidang pekerjaan di masa depan. Pernyataan itu langsung disambut sorakan dan boo dari sebagian mahasiswa yang hadir.

Meski begitu, Schmidt tetap mendorong para lulusan untuk ikut membentuk perkembangan AI, bukan sekadar takut terhadap teknologi tersebut.

“Ketika seseorang menawarkan kursi di roket, jangan tanya kursi yang mana. Naik saja,” ujar Schmidt, yang kembali memicu reaksi negatif dari sebagian hadirin.

Salah seorang hadirin yang juga mahasiswa Teknik Kimia Universitas Arizona, Arian Chavez mengatakan, pidato Schmidt soal AI hanya mengutamakan kepentingan sebagian kelompok daripada umat manusia secara keseluruhan.

Chavez sangat berharap bahwa perusahaan akan menggunakan AI untuk membantu kehidupan para pekerja, bukan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar atau menggantikan mereka.

PHK Massal atas Nama AI

Gelombang ejekan dari para wisudawan itu tak lepas dari kondisi AI hari ini yang meresahkan. Para wisudawan ini menghadapi pasar tenaga kerja yang tengah mengalami efisiensi akibat AI.

Dalam catatan kami, ada banyak perusahaan teknologi global yang memilih memecat karyawannya karena AI. Jumlah karyawan yang terdampak PHK ini mencapai puluhan ribu sepanjang tahun 2026.

Misalnya, Meta memecat 8.000 karyawan, Oracle merumahkan 30.000 karyawan, Amazon PHK 16.000 karyawan, dan masih banyak lagi.

Tujuan utama aksi PHK karyawan ini adalah efisiensi. Namun, ada dua tipe efisiensi yang diharapkan perusahaan dari AI dengan memecat karyawan.

Pertama, perusahaan memecat karyawan dan menggantikan perannya secara langsung dengan AI sehingga bisa menekan biaya produksi. Kedua, PHK dilakukan untuk membantu biaya pengembangan AI perusahaan.